Hyo Jin masih belum bisa masuk hari ini, dan karena Min Ho sibuk dengan kegiatan di kampusnya, Jin Ki sibuk dengan praktek hukumnya, dan Ki Bum ada konser kecil yang diadakan oleh jurusannya, akhirnya Hyo Jin hanya ada di rumah bersama dengan Tae Min dan Jong Hyun. Hyo Jin hanya duduk di kursi piano dan memencet tuts-tuts piano tanpa niat.
“hey nona manis.” Ujar Jong Hyun yang mendadak ada di atas piano Hyo Jin
“ash! Oppa!” Hyo Jin hampir berteriak saking kagetnya
“kau kaget karena kedatanganku, Hyo?” tanya Jong Hyun sedikit tersinggung
“ehm.. iya. Habis oppa mendadak ada di atas piano.” Ucap Hyo Jin agak salah tingkah. Takut menyinggung perasaan Jong Hyun.
“tak apalah. Di mana Tae Balita?” tanya Jong Hyun celingukan
“dia ada di mana-mana. Jika oppa tanya di mana dia, aku tak dapat menjawab dengan pasti.” Ucap Hyo Jin datar
“kau selalu tau tentangku, Hyo. Hyung, kau tak mendapat tempat di hatinya, makanya dia tidak begitu sensitif tentang kedatanganmu. Lagipula, ngapain kau di sini?” tanya Tae Min yang mendadak sudah ada di jendela, jongkok.
“kau!” ucap Jong Hyun melempar sendok tehnya ke Tae Min, namun Tae Min sudah menghilang dan kembali menampakkan diri di atas sofa.
Jong Hyun dan Tae Min pun memulai pertengkaran kecil ala mereka sedangkan Hyo Jin mengambil 1 kruknya dengan terpaksa dan mulai berjalan ke arah jendela. gerimis mulai berubah menjadi hujan deras. Langit amat mendung dan gelap.
“ada apa, Hyo?” tanya Tae Min dari belakang Hyo Jin, suaranya terdengar lembut
“eh.. oh.. tidak ada apa-apa.” Jawab Hyo Jin sekenanya
“beritahu aku.” Ucap Tae Min. kini nadanya lebih tegas
“aku hanya khawatir dengan Minoppa, Onew oppa dan Key oppa.” Ucap Hyo Jin pelan
“ah! Key. Dia baik-baik saja.” Jawab Jong Hyun sembari menyeruput tehnya lagi
“tenanglah. Onew hyung ada bersama mereka.” Ucap Tae Min lalu membantu Hyo Jin duduk di sofa
“aku rasa, aku lebih baik tiduran saja.” Ucap Hyo Jin yang segera masuk ke kamarnya.
*&*
[Kang Young Wook POV]
Namaku Kang Young Wook. Sama seperti orang lain, jika kalian mengenalku atau mengetahuiku untuk yang pertama kali tanpa bertatap muka, kalian pasti mengatakan bahwa aku adalah seorang… namja. Di sini akan kutegaskan bahwa aku seorang YEOJA. Yeoja. Perempuan. Seratus persen yeoja. 100% penghancur jenis yeoja lebih tepatnya. Aku adalah teman satu kelas Min Ho di kampus. Choi Min Ho. Cowok populer yang selalu dipuja-puja yeoja lain. Aku hanya melihat bahwa Choi Min Ho memang lebih tampan daripada yang lain. Tapi aku tidak melihat kelebihan lainnya. Teman-teman memanggilku Youngie, karena nama Youngie lebih terkesan feminine daripada memanggil nama lengkapku. Aku hanyalah – dan harus menjadi – seorang yeoja biasa. Aku tidak terlalu menonjol di sekolah, namun aku masih beruntung karena teman-teman juga tidak menganggapku invisible alias tidak terlihat.
Kalian tahu pelindung? Mereka adalah 100% banding terbalik dengan bangsaku, penghancur. Bisa dibilang kami ini… musuh? Sebenarnya, penghancur hanyalah kata-kata untuk menamai bangsa kami yang terkenal sombong dan tak mau dianggap sama dengan iblis. Pada dasarnya, tugas kami sejalan dengan para iblis. kenapa aku bisa mengatakan bahwa bangsaku sendiri sombong? karena kami suka menjadi sombong. kesombongan adalah kekuatan kami. aku baru tahu bahwa sombong dalam dunia manusia itu tidak begitu disukai. Kami hanya bekerja di bumi setelah kami menjadi penghancur senior. Kadang kami berebut mangsa dengan iblis untuk menghancurkan harapan-harapan mangsa kami. Namun kami tidak akan peduli dengan kematian mereka, itu tugas seorang iblis untuk mengurus kehidupan mangsa kami yang mati karena keterpurukan, putus asa, kesedihan maupun depresi. Kalau aku pribadi, aku tidak masalah untuk berteman dengan iblis, pelindung, bahkan malaikat. Penghancur senior setidaknya bisa bertransformasi 2/3 dari bentuk asli kami menjadi manusia. Nama, wajah, kebiasaan dan sifat kami masih sama. Jadi jangan heran bahwa kami, para penghancur, terlihat cukup arogan, sombong, atau menyeramkan. Kudengar bangsa pelindung kekurangan yeoja, kami malah kekurangan namja. Banyak yang melahirkan yeoja-yeoja baru. Aku rasa memang sudah tradisi bahwa siapapun yang menikah setidaknya hanya punya 1 atau bahkan tidak punya anak jenis namja. Entahlah. Aku sendiri punya banyak saudara yeoja. Aku adalah anak ke-6 dari 8 bersaudara yang semuanya adalah yeoja. Untung mereka tidak tinggal bersamaku sekarang.
Onew. Teman Min Ho. Aku cukup kenal baik dengannya. Dia kakak angkatanku sih, namun dia tampak seperti kami ini seumuran. Onew orang yang baik. Aku merasa orang yang lebih pantas untuk diidolakan adalah Onew, tapi sepertinya dia bahkan tidak banyak dikenal para yeoja yang menjadi fans Min Ho itu. aku sempat bertanya pada Onew kenapa dia tidak setenar Min Ho padahal dia dan Min Ho seperti lem dan kertas yang tidak terpisah. Aku tidak pernah berfikir untuk mengganggu Min Ho. Aku tidak bisa membaca hidupnya, hanya itu saja kendalaku. Aku belum memastikan dia ini manusia utuh atau pelindung.
“aku tidak begitu perlu diperebutkan. lagipula semua orang pasti sebenarnya tau kalau aku lebih dari Min Ho. Haha.” Selalu seperti itu jawaban yang kudapat darinya. Aku memanggil namanya, Onew, tanpa embel-embel ‘oppa’ di belakangnya. Bukan karena aku tidak menaruh sopan santun pada seniorku, tapi itu semua karena Onew tidak mau terlihat tua jika kutambahkan ‘oppa’ di belakang namanya. Itu murni permintaannya. Lagipula itu menguntungkan, aku kan penghancur, kami abadi. Jadi pasti umurku lebih tua beribu tahun darinya. Buat apa aku memanggilnya dengan embel-embel ‘oppa’?
aku tahu banyak tentang Min Ho. Bukan karena aku fans-nya, tapi karena kebetulan rumahnya hanya terpisah 3 pintu dari rumahku. Jadi, mau tak mau aku tahu tentangnya. Setiap lewat rumahnya, aura yang kurasakan cukup aneh. Aku merasa di dalam selalu penuh orang. Padahal Min Ho bilang dia hanya tinggal bertiga dengan Onew yang menumpang di rumahnya dan adik perempuan semata wayangnya. Mungkin ini karena aku adalah penghancur, jadi aku bisa merasakan aura-aura lain selain aura manusia. Tapi aku selalu saja mendapat jawaban yang sama dari Onew, lagi-lagi hanya dari Onew.
“tidak ada. Kami memang hidup bertiga. Mungkin saat kau mendengar dan merasa bahwa banyak orang di dalam, karena kami kedatangan tamu. Atau mungkin Key sedang ada di rumah saat itu.”
Key, tetangga yang memisah rumahku dan Min Ho itu memang sangat akrab dengan adik Min Ho. Aku sih menyimpulkan jika Key menyukai adik Min Ho. Aku pernah melihatnya membeli beberapa barang di bungkus rapi. Seperti sebuah kado atau hadiah untuk orang spesial. Aku tidak mengenal Key secara personal karena dia bukan temanku, bukan sejenis denganku. Bukan pula mahasiswa di kampus kami. Jadi aku hanya tahu bahwa dia adalah sahabat Min Ho dan Onew yang bertempat tinggal di antara rumahku dan Min Ho.
[Kim Jong Hyun POV]
“tahu tentang yeoja yang akhir-akhir ini kuceritakan? Yang rumahnya ada di sebelah kiri kita?” tanyaku pada Key saat makan malam berdua kali ini. Makan malam, berdua. Ini semua gara-gara Hyo Jin sedang tidak ingin di ganggu. Bahkan Tae Min sampai memutuskan untuk mengungsi di sini mungkin untuk beberapa hari. Min Ho dan Jin Ki hyung panik. Itu jelas, karena Hyo Jin tidak pernah mengamuk seperti tadi sore. Yeoja yang seperti seorang malaikat yang selalu manis itu bisa-bisanya membentak kami bahkan menyuruh Tae Min keluar dari rumahnya. Tapi Tae Min sedang tidak ada di sini sekarang, kurasa dia pasti mengecek keadaan Hyo Jin.
“aku tahu. Teman sekampus Min Ho itu kan? Yang kau bilang sepertinya bisa mengetahui keadaan kalian.” Key menjawab persis seperti definisiku tentang seseorang yang sedang kami bicarakan sekarang.
“iya, kau benar.”
“lalu kenapa dengan dia? Kau suka dia? Bisa suka manusia juga ya kalian?”
“kau mulai mencercaku dengan pertanyaan. Bisa satu-satu?” aku mulai sebal bila rasa penasaran manusiaku ini timbul. Dia bisa jadi namja paling cerewet yang aku kenal sepanjang hidupku.
“oh! Mianhae. Habis aku penasaran. Jadi, ada apa dengannya?”
“aku baru tahu bahwa dia dekat dengan Jin Ki hyung.”
“MWO? Bagaimana dia, seorang manusia, bisa dekat dengan Jin Ki hyung? Aku saja tidak kuat bila ada di dekatnya.”
“itu yang menjadi pikiranku selama beberapa hari ini. Dia itu memang MANUSIA atau jangan-jangan PELINDUNG?”
“pelindung? Katamu pelindung berjenis yeoja tidak bisa lama-lama di bumi kecuali dia punya manusia yang berjenis yeoja juga?”
“kataku!? Kapan aku mengatakan hal konyol seperti itu!” ralatku. Seenaknya saja dia mengubah hukum kami. “jangan-jangan Tae Balita yang bilang macam-macam.” Ucapku menggeram
“seenakmu saja. Aku tidak pernah mau mengumbar hukum kita kepada manusia yang bukan jadi tanggung jawabku.” Mendadak Tae Min sudah ada di dekat jendela, bagaimana bisa dia diam di sana dan malah makan keju. KEJU! Hei! Dia ini pelindung atau anak kecil yang harus dilindungi sih!? Kelakuannya tidak bertambah dewasa meski sudah 2 tahun melindungi Hyo Jin.
“hei balita! Kau ini bisa dewasa sedikit tidak sih!? Pantas saja Hyo Jin bertindak seperti itu padamu,” aku memancing amarahnya, hanya ingin lihat reaksinya sih.
“berhenti mengatakan hal itu, hyung!” Tae Min mencengkeran kerahku. Pancinganku kena. Bingo! Ternyata kalau sedang emosi, dia bisa marah juga.
“calm down, Tae Min. Jjong hanya menyulut amarahmu. Seperti tidak tahu dia saja. Lagipula kau ini memotong pembicaraan. Lanjutkan, Jjong.” Lerai Key. Tumben dia bisa serius seperti ini.
Aku berjalan mengitari meja makan dan bersandar di dinding. Aku tidak tahu harus mengatakannya atau tidak kepada Key. Namun aku dan Key sudah sepakat tidak ada yang akan disembunyikan dari pikiran dan hati masing-masing.
“Jjong? Masih mau dilanjutkan?” sekarang nadanya malah melembut. Aku khawatir dengan perubahan tiba-tiba Key. Aku sendiri bahkan tidak bisa mengatasinya. Apalagi orang lain.
“oh, ya… kurasa aku harus hati-hati. Dia bisa saja pernah melihatku dan Tae Min jika dia benar-benar bisa merasa atau bahkan pelindung jenis yeoja.” Ucapku asal.
“oh. Jadi kalian harus hati-hati. Lalu Onew hyung?”
“biarkan sajalah. Dia kan bisa jadi manusia juga.” Ucapku lalu segera pergi. “istirahatlah Key. Aku pergi dulu.”
[Choi Min Ho POV]
“Hyo Jin-ah. Buka pintunya.” Masih terdengar isak Hyo Jin di dalam kamar. Bahkan seorang Jin Ki memilih diam kali ini. Ada apa sebenarnya dengan Hyo Jin?
Jong Hyun bilang dia masih biasa saja sore tadi. Tae Min tidak mau bicara sepatah katapun padaku. Ada apa sebenarnya? Kenapa mendadak Hyo Jin seperti kerasukan? Kali ini aku benar-benar berharap keempat sahabatku itu ada di sini dan membantu Hyo Jin keluar dari kamarnya. Tolong, siapapun. Aku tidak mau Hyo Jin kenapa-kenapa.
No comments:
Post a Comment