Thursday, October 14, 2010

MINE [part 1]


Cast:
-       SHINee members
-       Kim Hyojin

Note: I just own the plot



“dia pasti datang. Dia sudah berjanji padaku untuk datang.”
“sudahlah! Selama apapun kau menunggu, dia takkan kembali padamu.”
“Kibum pasti pulang. Dia sudah janji akan cerita segala yang dia alami padaku.”
“itu hanya janji anak-anak, Hyojin..”
“hentikan, Taemin! Aku tahu dia pasti datang!”
“Hyojin! Aku yang selama ini ada untukmu, bukan Kibum! Lupakan dia”


Benar-benar kekanakan mungkin, namun aku tak dapat memungkiri bahwa aku benar-benar menangis hanya karena Kibum mengambil es krimku. Es krim yang kubeli dari hasil kerjaku selama seminggu ini.

Kim Kibum. Dia temanku sejak kecil. Dia berbeda denganku, Kibum itu anak orang kaya. Tidak sepertiku, aku harus kerja sambilan untuk menambah uang sakuku. Memang susah hidup sebagai orang serba kekurangan. Aku bisa apa lagi? Aku sudah tidak punya siapa-siapa. Oh ya, namaku Hyojin. Lebih tepatnya adalah Kim Hyojin. Aku anak tunggal, dan kali ini benar-benar tunggal. Tanpa ada appa dan eomma.

Aku kehilangan appa dan eomma 5 tahun yang lalu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka meninggal karena kecelakaan. Saat itu harusnya aku akan mempunyai adik, namun takdir berkata lain. Aku sendirian. Ya, ya. Aku memang sendiri. Namun aku tidak seperti anak-anak lain seusiaku yang setelah di tinggal lalu tinggal di panti asuhan dan bergantung pada orang lain. Appa selalu bilang padaku bahwa hidup hanya sekali. Aku harus mencari banyak sekali pengalaman dalam hidup ini. Makanya aku tidak mau masuk dalam panti asuhan. Di sana aku pasti seperti hewan peliharaan yang hanya menerima dan bekerja untuk mendapatkan hakku yaitu makan. Aku paling benci orang seperti itu. Selama otak dan ototku masih dapat kugunakan, aku akan mencari jalan hidupku sendiri.

Dan di sinilah aku akhirnya. Seoul. Kota metropolitan. Cukup jauh dari daerah asalku, Jeonju. Tau kenapa aku sampai di sini? Inilah kisahku.

Aku berumur 8 tahun saat itu. Aku masih berada di Jeonju. Aku masuk di Jeonju [Elite] Elementary School dan kenal dengan 2 orang cowok yang unik dengan karakter mereka masing-masing, 2 orang pelindung, dan 1 orang manusia-setengah-pelindung.

Lee Jinki. Dia kakak kelasku sekaligus tetanggaku semenjak aku pindah dari Jeju ke Jeonju. Dari orangtuanya jugalah aku masuk di sekolah ini. Aku suka memanggilnya Jiko. Entah kenapa, rasanya nama Jinki terlalu bagus untuknya. Jiko terpaut 2 tahun dariku. Meski begitu aku tidak memanggilnya oppa. Dia tidak mau, katanya terlihat tua. Padahal memang tua. Dia sebenarnya bukan manusia utuh, namun entah bagaimana dia bisa menjadi manusia dan tau segala tentang pelindung. Dia berkata bahwa dia tidak butuh pelindung, malah melindungi Chomi.

Kim Jonghyun dan Kim Kibum. Mereka tak terpisahkan. Kemana-mana Jonghyun mengawal Kibum. Kibum yang paling kaya di antara aku, dia, Chomi dan Jiko. Jonghyun adalah pelindung Kibum. Kibum kemana, dia selalu ada. Kalau aku tidak kenal Kibum, aku pasti tidak kenal Jonghyun. Jonghyun atau yang lebih sering kupanggil Jin karena keusilannya itu lebih tua dariku dan Kibum. Namun seperti memanggil Jiko, aku memanggil Jin tanpa embel-embel oppa di belakangnya. Kalau untuk Kibum, cowok sok bersih ini, aku tetap memanggil dengan namanya. Dia bisa mengamuk kalau aku memanggilnya dengan sebutan lain. Aku bisa melihat Jin. Aku bahkan berbicara dan bercanda dengannya seperti Kibum kepada Jin. Kibum selalu baik padaku, dia memang menyenangkan dan selalu care pada semua orang.

Yang ketiga, Choi Minho. Dia seumuran denganku. Kalem dan lebih sering tersenyum daripada berbicara, tadinya. Setelah kami dekat, dia lebih cerewet dari yang aku kira. Aku sempat berfikir dia ini boneka atau patung ketika awal bertemu. Di antara kelima sahabatku ini, kuakui dia yang paling tampan. Aku selalu cerita apapun kepadanya. Dia buku diary berjalanku. Aku memanggilnya Chomi. Entah, sepertinya memang kebiasaanku memanggil nama orang lain seenakku. Dia ini juga manusia.

Lee Taemin. Dia pelindungku, aku sendiri tidak tau apa maksudnya pelindung itu, namun aku percaya padanya. Dia selalu ada di mana-mana. Kenapa aku bilang ‘di mana-mana'? karena kadang dia menghilang, lalu mendadak sudah ada di hadapanku. Kadang aku usil dengan memanggilnya eonni. Taemin mengaku lebih muda dariku, namun sikapnya kadang terlalu dewasa dibanding umurnya. Setiap aku tanya berapa umurnya, dia hanya bilang berkali lipat dari umurku. Dia terus menyangkal umurnya lebih tua dariku.

Ketiga sahabatku yang kudapat semenjak masuk di Jeonju EES itu orang yang setia kawan. Dan beruntungnya, dengan campur tangan Kibum, kami ber-4 selalu bersama. Aku memang seorang perempuan, dan mereka semua laki-laki. Tapi aku tak ambil pusing, selama aku tidak tersakiti. Mereka bisa dibilang adalah soulmate-ku. Di tambah dengan 2 pelindung, yang kurasa sangat-amat berguna.

Aku selalu bersama mereka. Bermain, berkelahi, olahraga, aku bersama mereka. Hanya mereka yang aku punya, ya. Aku bukan orang yang gampang bergaul dengan orang lain di sekitarku. Aku terlalu ‘transparan’ bagi orang lain. Aku sering tidak di anggap. Itu tidak masalah bagiku sih.

“Jiko. Eomma akan segera melahirkan. Melahirkan itu apa ya?” tanyaku pada Jiko di taman sepulang sekolah
“itu artinya, adikmu akan segera berada di dunia ini.” Ucap Jiko
“adikku memang ada di dunia ini kan? Eomma bilang dia ada di perut eomma.”
“dasar anak kecil. Adikmu belum sampai di dunia.” Ucapnya menekankan kata belum.
“memang dia di mana sekarang?”
“ya masih di perut eommamu. Kalau eommamu bilang beliau sudah melahirkan, baru adikmu ada di dunia.” Ucap Jiko
“aku masih tidak mengerti.” Ucapku
“tentu kau tidak mengerti, anak kecil!” ucap Taemin mendadak ada di atas tiang ayunan.
“Taemin? Bagaimana bisa kau ada di sana?”
“aku bisa ada di mana saja.”
“Taemin! Dia masih terlalu kecil untuk tau tentangmu yang selalu menampakkan diri seenak dirimu. Turunlah. Bersikaplah seperti manusia.”
“jadi selama ini dia menganggapku manusia? Bisa-bisanya …”
“memang kau pikir dia percaya kalau ada seorang pelindung baginya?”
“Jiko, Taemin. Kalian membicarakan apa sih?”
“bukan apa-apa.”
“Hyojin, ayo pulang.” Ucap Kibum yang berada di samping mobilnya, meneriakiku.
“Jiko, ayo.” Ucapku menggandeng Jiko. Yang kutau saat itu, Taemin sudah ada di mobil Kibum.

Kami ber-6 ada di mobil Kibum. Kami saling bertukar cerita, tentu saja aku ada di antara Jiko dan Taemin. Chomi duduk di dekat Jin. Saat itu aku berpikir bahwa Jin juga seorang manusia, karena Chomi juga bisa melihat Jin. Kami berbicara layaknya manusia dengan manusia. Seperti biasa, Kibum mengantar Chomi, Jiko dan aku pulang. Rumah kami hanya berbeda kompleks, kecuali rumah Jiko yang berada tepat di sebelah kiri rumahku.

Aku adalah seorang anak perempuan biasa yang selalu bermain dengan ceria. aku bahkan tak pernah berpikir bahwa aku akan kehilangan kedua orangtuaku. Sampai saat itu, aku sedang ada di rumah Kibum, sendiri. Mendadak Jiko, Jin, dan Taemin datang disusul Chomi. Mereka saling berbisik. Sampai akhirnya,


to be continued ...

No comments: