Thursday, October 14, 2010

The Time Line [part 3]


Hyo Jin masih belum bisa masuk hari ini, dan karena Min Ho sibuk dengan kegiatan di kampusnya, Jin Ki sibuk dengan praktek hukumnya, dan Ki Bum ada konser kecil yang diadakan oleh jurusannya, akhirnya Hyo Jin hanya ada di rumah bersama dengan Tae Min dan Jong Hyun. Hyo Jin hanya duduk di kursi piano dan memencet tuts-tuts piano tanpa niat.
“hey nona manis.” Ujar Jong Hyun yang mendadak ada di atas piano Hyo Jin
“ash! Oppa!” Hyo Jin hampir berteriak saking kagetnya
“kau kaget karena kedatanganku, Hyo?” tanya Jong Hyun sedikit tersinggung
“ehm.. iya. Habis oppa mendadak ada di atas piano.” Ucap Hyo Jin agak salah tingkah. Takut menyinggung perasaan Jong Hyun.
“tak apalah. Di mana Tae Balita?” tanya Jong Hyun celingukan
“dia ada di mana-mana. Jika oppa tanya di mana dia, aku tak dapat menjawab dengan pasti.” Ucap Hyo Jin datar
“kau selalu tau tentangku, Hyo. Hyung, kau tak mendapat tempat di hatinya, makanya dia tidak begitu sensitif tentang kedatanganmu. Lagipula, ngapain kau di sini?” tanya Tae Min yang mendadak sudah ada di jendela, jongkok.
“kau!” ucap Jong Hyun melempar sendok tehnya ke Tae Min, namun Tae Min sudah menghilang dan kembali menampakkan diri di atas sofa.

Jong Hyun dan Tae Min pun memulai pertengkaran kecil ala mereka sedangkan Hyo Jin mengambil 1 kruknya dengan terpaksa dan mulai berjalan ke arah jendela. gerimis mulai berubah menjadi hujan deras. Langit amat mendung dan gelap.
“ada apa, Hyo?” tanya Tae Min dari belakang Hyo Jin, suaranya terdengar lembut
“eh.. oh.. tidak ada apa-apa.” Jawab Hyo Jin sekenanya
“beritahu aku.” Ucap Tae Min. kini nadanya lebih tegas
“aku hanya khawatir dengan Minoppa, Onew oppa dan Key oppa.” Ucap Hyo Jin pelan
“ah! Key. Dia baik-baik saja.” Jawab Jong Hyun sembari menyeruput tehnya lagi
“tenanglah. Onew hyung ada bersama mereka.” Ucap Tae Min lalu membantu Hyo Jin duduk di sofa
“aku rasa, aku lebih baik tiduran saja.” Ucap Hyo Jin yang segera masuk ke kamarnya.

*&*
[Kang Young Wook POV]
Namaku Kang Young Wook. Sama seperti orang lain, jika kalian mengenalku atau mengetahuiku untuk yang pertama kali tanpa bertatap muka, kalian pasti mengatakan bahwa aku adalah seorang… namja. Di sini akan kutegaskan bahwa aku seorang YEOJA. Yeoja. Perempuan. Seratus persen yeoja. 100% penghancur jenis yeoja lebih tepatnya. Aku adalah teman satu kelas Min Ho di kampus. Choi Min Ho. Cowok populer yang selalu dipuja-puja yeoja lain. Aku hanya melihat bahwa Choi Min Ho memang lebih tampan daripada yang lain. Tapi aku tidak melihat kelebihan lainnya. Teman-teman memanggilku Youngie, karena nama Youngie lebih terkesan feminine daripada memanggil nama lengkapku. Aku hanyalah – dan harus menjadi –  seorang yeoja biasa. Aku tidak terlalu menonjol di sekolah, namun aku masih beruntung karena teman-teman juga tidak menganggapku invisible alias tidak terlihat.

Kalian tahu pelindung? Mereka adalah 100% banding terbalik dengan bangsaku, penghancur. Bisa dibilang kami ini… musuh? Sebenarnya, penghancur hanyalah kata-kata untuk menamai bangsa kami yang terkenal sombong dan tak mau dianggap sama dengan iblis. Pada dasarnya, tugas kami sejalan dengan para iblis. kenapa aku bisa mengatakan bahwa bangsaku sendiri sombong? karena kami suka menjadi sombong. kesombongan adalah kekuatan kami. aku baru tahu bahwa sombong dalam dunia manusia itu tidak begitu disukai. Kami hanya bekerja di bumi setelah kami menjadi penghancur senior. Kadang kami berebut mangsa dengan iblis untuk menghancurkan harapan-harapan mangsa kami. Namun kami tidak akan peduli dengan kematian mereka, itu tugas seorang iblis untuk mengurus kehidupan mangsa kami yang mati karena keterpurukan, putus asa, kesedihan maupun depresi. Kalau aku pribadi, aku tidak masalah untuk berteman dengan iblis, pelindung, bahkan malaikat. Penghancur senior setidaknya bisa bertransformasi 2/3 dari bentuk asli kami menjadi manusia. Nama, wajah, kebiasaan dan sifat kami masih sama. Jadi jangan heran bahwa kami, para penghancur, terlihat cukup arogan, sombong, atau menyeramkan. Kudengar bangsa pelindung kekurangan yeoja, kami malah kekurangan namja. Banyak yang melahirkan yeoja-yeoja baru. Aku rasa memang sudah tradisi bahwa siapapun yang menikah setidaknya hanya punya 1 atau bahkan tidak punya anak jenis namja. Entahlah. Aku sendiri punya banyak saudara yeoja. Aku adalah anak ke-6 dari 8 bersaudara yang semuanya adalah yeoja. Untung mereka tidak tinggal bersamaku sekarang.

Onew. Teman Min Ho. Aku cukup kenal baik dengannya. Dia kakak angkatanku sih, namun dia tampak seperti kami ini seumuran. Onew orang yang baik. Aku merasa orang yang lebih pantas untuk diidolakan adalah Onew, tapi sepertinya dia bahkan tidak banyak dikenal para yeoja yang menjadi fans Min Ho itu. aku sempat bertanya pada Onew kenapa dia tidak setenar Min Ho padahal dia dan Min Ho seperti lem dan kertas yang tidak terpisah. Aku tidak pernah berfikir untuk mengganggu Min Ho. Aku tidak bisa membaca hidupnya, hanya itu saja kendalaku. Aku belum memastikan dia ini manusia utuh atau pelindung.

“aku tidak begitu perlu diperebutkan. lagipula semua orang pasti sebenarnya tau kalau aku lebih dari Min Ho. Haha.” Selalu seperti itu jawaban yang kudapat darinya. Aku memanggil namanya, Onew, tanpa embel-embel ‘oppa’ di belakangnya. Bukan karena aku tidak menaruh sopan santun pada seniorku, tapi itu semua karena Onew tidak mau terlihat tua jika kutambahkan ‘oppa’ di belakang namanya. Itu murni permintaannya. Lagipula itu menguntungkan, aku kan penghancur, kami abadi. Jadi pasti umurku lebih tua beribu tahun darinya. Buat apa aku memanggilnya dengan embel-embel ‘oppa’?

aku tahu banyak tentang Min Ho. Bukan karena aku fans-nya, tapi karena kebetulan rumahnya hanya terpisah 3 pintu dari rumahku. Jadi, mau tak mau aku tahu tentangnya. Setiap lewat rumahnya, aura yang kurasakan cukup aneh. Aku merasa di dalam selalu penuh orang. Padahal Min Ho bilang dia hanya tinggal bertiga dengan Onew yang menumpang di rumahnya dan adik perempuan semata wayangnya. Mungkin ini karena aku adalah penghancur, jadi aku bisa merasakan aura-aura lain selain aura manusia. Tapi aku selalu saja mendapat jawaban yang sama dari Onew, lagi-lagi hanya dari Onew.
“tidak ada. Kami memang hidup bertiga. Mungkin saat kau mendengar dan merasa bahwa banyak orang di dalam, karena kami kedatangan tamu. Atau mungkin Key sedang ada di rumah saat itu.”

Key, tetangga yang memisah rumahku dan Min Ho itu memang sangat akrab dengan adik Min Ho. Aku sih menyimpulkan jika Key menyukai adik Min Ho. Aku pernah melihatnya membeli beberapa barang di bungkus rapi. Seperti sebuah kado atau hadiah untuk orang spesial. Aku tidak mengenal Key secara personal karena dia bukan temanku, bukan sejenis denganku. Bukan pula mahasiswa di kampus kami. Jadi aku hanya tahu bahwa dia adalah sahabat Min Ho dan Onew yang bertempat tinggal di antara rumahku dan Min Ho.

[Kim Jong Hyun POV]
“tahu tentang yeoja yang akhir-akhir ini kuceritakan? Yang rumahnya ada di sebelah kiri kita?” tanyaku pada Key saat makan malam berdua kali ini. Makan malam, berdua. Ini semua gara-gara Hyo Jin sedang tidak ingin di ganggu. Bahkan Tae Min sampai memutuskan untuk mengungsi di sini mungkin untuk beberapa hari. Min Ho dan Jin Ki hyung panik. Itu jelas, karena Hyo Jin tidak pernah mengamuk seperti tadi sore. Yeoja yang seperti seorang malaikat yang selalu manis itu bisa-bisanya membentak kami bahkan menyuruh Tae Min keluar dari rumahnya. Tapi Tae Min sedang tidak ada di sini sekarang, kurasa dia pasti mengecek keadaan Hyo Jin.

“aku tahu. Teman sekampus Min Ho itu kan? Yang kau bilang sepertinya bisa mengetahui keadaan kalian.” Key menjawab persis seperti definisiku tentang seseorang yang sedang kami bicarakan sekarang.
“iya, kau benar.”
“lalu kenapa dengan dia? Kau suka dia? Bisa suka manusia juga ya kalian?”
“kau mulai mencercaku dengan pertanyaan. Bisa satu-satu?” aku mulai sebal bila rasa penasaran manusiaku ini timbul. Dia bisa jadi namja paling cerewet yang aku kenal sepanjang hidupku.
“oh! Mianhae. Habis aku penasaran. Jadi, ada apa dengannya?”
“aku baru tahu bahwa dia dekat dengan Jin Ki hyung.”
“MWO? Bagaimana dia, seorang manusia, bisa dekat dengan Jin Ki hyung? Aku saja tidak kuat bila ada di dekatnya.”
“itu yang menjadi pikiranku selama beberapa hari ini. Dia itu memang MANUSIA atau jangan-jangan PELINDUNG?”
“pelindung? Katamu pelindung berjenis yeoja tidak bisa lama-lama di bumi kecuali dia punya manusia yang berjenis yeoja juga?”
“kataku!? Kapan aku mengatakan hal konyol seperti itu!” ralatku. Seenaknya saja dia mengubah hukum kami. “jangan-jangan Tae Balita yang bilang macam-macam.” Ucapku menggeram
“seenakmu saja. Aku tidak pernah mau mengumbar hukum kita kepada manusia yang bukan jadi tanggung jawabku.” Mendadak Tae Min sudah ada di dekat jendela, bagaimana bisa dia diam di sana dan malah makan keju. KEJU! Hei! Dia ini pelindung atau anak kecil yang harus dilindungi sih!? Kelakuannya tidak bertambah dewasa meski sudah 2 tahun melindungi Hyo Jin.
“hei balita! Kau ini bisa dewasa sedikit tidak sih!? Pantas saja Hyo Jin bertindak seperti itu padamu,” aku memancing amarahnya, hanya ingin lihat reaksinya sih.
“berhenti mengatakan hal itu, hyung!” Tae Min mencengkeran kerahku. Pancinganku kena. Bingo! Ternyata kalau sedang emosi, dia bisa marah juga.
calm down, Tae Min. Jjong hanya menyulut amarahmu. Seperti tidak tahu dia saja. Lagipula kau ini memotong pembicaraan. Lanjutkan, Jjong.” Lerai Key. Tumben dia bisa serius seperti ini.

Aku berjalan mengitari meja makan dan bersandar di dinding. Aku tidak tahu harus mengatakannya atau tidak kepada Key. Namun aku dan Key sudah sepakat tidak ada yang akan disembunyikan dari pikiran dan hati masing-masing.
“Jjong? Masih mau dilanjutkan?” sekarang nadanya malah melembut. Aku khawatir dengan perubahan tiba-tiba Key. Aku sendiri bahkan tidak bisa mengatasinya. Apalagi orang lain.
“oh, ya… kurasa aku harus hati-hati. Dia bisa saja pernah melihatku dan Tae Min jika dia benar-benar bisa merasa atau bahkan pelindung jenis yeoja.” Ucapku asal.
“oh. Jadi kalian harus hati-hati. Lalu Onew hyung?”
“biarkan sajalah. Dia kan bisa jadi manusia juga.” Ucapku lalu segera pergi. “istirahatlah Key. Aku pergi dulu.”

[Choi Min Ho POV]
“Hyo Jin-ah. Buka pintunya.” Masih terdengar isak Hyo Jin di dalam kamar. Bahkan seorang Jin Ki memilih diam kali ini. Ada apa sebenarnya dengan Hyo Jin?

Jong Hyun bilang dia masih biasa saja sore tadi. Tae Min tidak mau bicara sepatah katapun padaku. Ada apa sebenarnya? Kenapa mendadak Hyo Jin seperti kerasukan? Kali ini aku benar-benar berharap keempat sahabatku itu ada di sini dan membantu Hyo Jin keluar dari kamarnya. Tolong, siapapun. Aku tidak mau Hyo Jin kenapa-kenapa.

MINE [part 1]


Cast:
-       SHINee members
-       Kim Hyojin

Note: I just own the plot



“dia pasti datang. Dia sudah berjanji padaku untuk datang.”
“sudahlah! Selama apapun kau menunggu, dia takkan kembali padamu.”
“Kibum pasti pulang. Dia sudah janji akan cerita segala yang dia alami padaku.”
“itu hanya janji anak-anak, Hyojin..”
“hentikan, Taemin! Aku tahu dia pasti datang!”
“Hyojin! Aku yang selama ini ada untukmu, bukan Kibum! Lupakan dia”


Benar-benar kekanakan mungkin, namun aku tak dapat memungkiri bahwa aku benar-benar menangis hanya karena Kibum mengambil es krimku. Es krim yang kubeli dari hasil kerjaku selama seminggu ini.

Kim Kibum. Dia temanku sejak kecil. Dia berbeda denganku, Kibum itu anak orang kaya. Tidak sepertiku, aku harus kerja sambilan untuk menambah uang sakuku. Memang susah hidup sebagai orang serba kekurangan. Aku bisa apa lagi? Aku sudah tidak punya siapa-siapa. Oh ya, namaku Hyojin. Lebih tepatnya adalah Kim Hyojin. Aku anak tunggal, dan kali ini benar-benar tunggal. Tanpa ada appa dan eomma.

Aku kehilangan appa dan eomma 5 tahun yang lalu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka meninggal karena kecelakaan. Saat itu harusnya aku akan mempunyai adik, namun takdir berkata lain. Aku sendirian. Ya, ya. Aku memang sendiri. Namun aku tidak seperti anak-anak lain seusiaku yang setelah di tinggal lalu tinggal di panti asuhan dan bergantung pada orang lain. Appa selalu bilang padaku bahwa hidup hanya sekali. Aku harus mencari banyak sekali pengalaman dalam hidup ini. Makanya aku tidak mau masuk dalam panti asuhan. Di sana aku pasti seperti hewan peliharaan yang hanya menerima dan bekerja untuk mendapatkan hakku yaitu makan. Aku paling benci orang seperti itu. Selama otak dan ototku masih dapat kugunakan, aku akan mencari jalan hidupku sendiri.

Dan di sinilah aku akhirnya. Seoul. Kota metropolitan. Cukup jauh dari daerah asalku, Jeonju. Tau kenapa aku sampai di sini? Inilah kisahku.

Aku berumur 8 tahun saat itu. Aku masih berada di Jeonju. Aku masuk di Jeonju [Elite] Elementary School dan kenal dengan 2 orang cowok yang unik dengan karakter mereka masing-masing, 2 orang pelindung, dan 1 orang manusia-setengah-pelindung.

Lee Jinki. Dia kakak kelasku sekaligus tetanggaku semenjak aku pindah dari Jeju ke Jeonju. Dari orangtuanya jugalah aku masuk di sekolah ini. Aku suka memanggilnya Jiko. Entah kenapa, rasanya nama Jinki terlalu bagus untuknya. Jiko terpaut 2 tahun dariku. Meski begitu aku tidak memanggilnya oppa. Dia tidak mau, katanya terlihat tua. Padahal memang tua. Dia sebenarnya bukan manusia utuh, namun entah bagaimana dia bisa menjadi manusia dan tau segala tentang pelindung. Dia berkata bahwa dia tidak butuh pelindung, malah melindungi Chomi.

Kim Jonghyun dan Kim Kibum. Mereka tak terpisahkan. Kemana-mana Jonghyun mengawal Kibum. Kibum yang paling kaya di antara aku, dia, Chomi dan Jiko. Jonghyun adalah pelindung Kibum. Kibum kemana, dia selalu ada. Kalau aku tidak kenal Kibum, aku pasti tidak kenal Jonghyun. Jonghyun atau yang lebih sering kupanggil Jin karena keusilannya itu lebih tua dariku dan Kibum. Namun seperti memanggil Jiko, aku memanggil Jin tanpa embel-embel oppa di belakangnya. Kalau untuk Kibum, cowok sok bersih ini, aku tetap memanggil dengan namanya. Dia bisa mengamuk kalau aku memanggilnya dengan sebutan lain. Aku bisa melihat Jin. Aku bahkan berbicara dan bercanda dengannya seperti Kibum kepada Jin. Kibum selalu baik padaku, dia memang menyenangkan dan selalu care pada semua orang.

Yang ketiga, Choi Minho. Dia seumuran denganku. Kalem dan lebih sering tersenyum daripada berbicara, tadinya. Setelah kami dekat, dia lebih cerewet dari yang aku kira. Aku sempat berfikir dia ini boneka atau patung ketika awal bertemu. Di antara kelima sahabatku ini, kuakui dia yang paling tampan. Aku selalu cerita apapun kepadanya. Dia buku diary berjalanku. Aku memanggilnya Chomi. Entah, sepertinya memang kebiasaanku memanggil nama orang lain seenakku. Dia ini juga manusia.

Lee Taemin. Dia pelindungku, aku sendiri tidak tau apa maksudnya pelindung itu, namun aku percaya padanya. Dia selalu ada di mana-mana. Kenapa aku bilang ‘di mana-mana'? karena kadang dia menghilang, lalu mendadak sudah ada di hadapanku. Kadang aku usil dengan memanggilnya eonni. Taemin mengaku lebih muda dariku, namun sikapnya kadang terlalu dewasa dibanding umurnya. Setiap aku tanya berapa umurnya, dia hanya bilang berkali lipat dari umurku. Dia terus menyangkal umurnya lebih tua dariku.

Ketiga sahabatku yang kudapat semenjak masuk di Jeonju EES itu orang yang setia kawan. Dan beruntungnya, dengan campur tangan Kibum, kami ber-4 selalu bersama. Aku memang seorang perempuan, dan mereka semua laki-laki. Tapi aku tak ambil pusing, selama aku tidak tersakiti. Mereka bisa dibilang adalah soulmate-ku. Di tambah dengan 2 pelindung, yang kurasa sangat-amat berguna.

Aku selalu bersama mereka. Bermain, berkelahi, olahraga, aku bersama mereka. Hanya mereka yang aku punya, ya. Aku bukan orang yang gampang bergaul dengan orang lain di sekitarku. Aku terlalu ‘transparan’ bagi orang lain. Aku sering tidak di anggap. Itu tidak masalah bagiku sih.

“Jiko. Eomma akan segera melahirkan. Melahirkan itu apa ya?” tanyaku pada Jiko di taman sepulang sekolah
“itu artinya, adikmu akan segera berada di dunia ini.” Ucap Jiko
“adikku memang ada di dunia ini kan? Eomma bilang dia ada di perut eomma.”
“dasar anak kecil. Adikmu belum sampai di dunia.” Ucapnya menekankan kata belum.
“memang dia di mana sekarang?”
“ya masih di perut eommamu. Kalau eommamu bilang beliau sudah melahirkan, baru adikmu ada di dunia.” Ucap Jiko
“aku masih tidak mengerti.” Ucapku
“tentu kau tidak mengerti, anak kecil!” ucap Taemin mendadak ada di atas tiang ayunan.
“Taemin? Bagaimana bisa kau ada di sana?”
“aku bisa ada di mana saja.”
“Taemin! Dia masih terlalu kecil untuk tau tentangmu yang selalu menampakkan diri seenak dirimu. Turunlah. Bersikaplah seperti manusia.”
“jadi selama ini dia menganggapku manusia? Bisa-bisanya …”
“memang kau pikir dia percaya kalau ada seorang pelindung baginya?”
“Jiko, Taemin. Kalian membicarakan apa sih?”
“bukan apa-apa.”
“Hyojin, ayo pulang.” Ucap Kibum yang berada di samping mobilnya, meneriakiku.
“Jiko, ayo.” Ucapku menggandeng Jiko. Yang kutau saat itu, Taemin sudah ada di mobil Kibum.

Kami ber-6 ada di mobil Kibum. Kami saling bertukar cerita, tentu saja aku ada di antara Jiko dan Taemin. Chomi duduk di dekat Jin. Saat itu aku berpikir bahwa Jin juga seorang manusia, karena Chomi juga bisa melihat Jin. Kami berbicara layaknya manusia dengan manusia. Seperti biasa, Kibum mengantar Chomi, Jiko dan aku pulang. Rumah kami hanya berbeda kompleks, kecuali rumah Jiko yang berada tepat di sebelah kiri rumahku.

Aku adalah seorang anak perempuan biasa yang selalu bermain dengan ceria. aku bahkan tak pernah berpikir bahwa aku akan kehilangan kedua orangtuaku. Sampai saat itu, aku sedang ada di rumah Kibum, sendiri. Mendadak Jiko, Jin, dan Taemin datang disusul Chomi. Mereka saling berbisik. Sampai akhirnya,


to be continued ...

When The Flower Blooming [part 3]

“kau kenal dia? dekat dengannya?” tanya Alexander penasaran
“kenal. She’s my classmate. Dia juga populer karena anak OSIS.” Jawab Kevin
“kau dekat dengannya? Enak sekali! Ngomong-ngomong dia yang ada di subway kemarin dulu itu kan?” tanya Eli
“ah, aku tidak dekat dengannya. Kiseop kan yang dekat dengannya.” Ucap Kevin yang ingin menyindir Kiseop
“ngomong-ngomong kenapa Kiseop hyung ikut ke dapur?” tanya Dongho baru sadar kalau Kiseop tadi ikut jalan ke dapur membantu Hyojin membawa piring-piring kotor.
“sebenarnya aku juga penasaran apa hubungan Kiseop dengan Hyojin. Dia hanya bilang mereka memang dekat sekali.” Ucap Eli menjawab kata-kata Kevin barusan
“ya. Kelihatan kok mereka SANGAT SANGAT dekat. Kiseop mengantarnya ke sekolah beberapa kali.” Ucap Kevin masih dengan nada ketus.
“jangan jangan mereka…” gurau anak-anak U-KISS yang lain sambil tertawa
“mereka memang dekat. Tapi kenapa nada suaramu begitu ketus? Memang kau sendiri ada hubungan apa dengan Hyojin?” tanya Kibum sambil meneruskan makannya
“na!? eopseo!” jawab Kevin refleks. “neon baboya, Kev! Kenapa kau terlalu cepat menjawab! Pikirkan baik-baik!” gerutu Kevin pada dirinya sendiri dalam hati.
“eotteoke? Enak kan makanannya?” ucap Kiseop yang tiba-tiba datang
“hyung odie gasseyo?” tanya Dongho.
“aku dari dapur. Membuat sendiri bibimbap-ku. Waeyo?” tanya Kiseop
“aniya. Just curious.” Ucap Dongho.
“oo~ jarhanhae~ neon yong-o jarhanhae.” Ucap Eli di sebelah Dongho.
“aku sudah bilang, aku ini jenius!” jawab Dongho tidak mau kalah. Mereka semua tertawa, kecuali Kevin tentu.
“Kiseop. Kau dan Hyojin sebegitu dekatnya ya?” tanya Alex
“waeyo hyung? Jiltu-iyeyo? Hahaha.” Ucap Kiseop bercanda.
“aniya! Buat apa aku jealous padamu?! I’m just curious. Aku tidak pernah tau kau sebegitu dekatnya dengan seorang cewek. Jangan-jangan kau selalu kirim message ke dia ya? Dia yang selalu kau kirimi ucapan itu?” tanya Alex
“ya! Hyung! Diamlah!” ucap Kiseop memukul Alex pelan.
“message? Sial! Kenapa Hyojin tidak mau hanya mengirimiku e-mail sekali saja tapi mau membalas message Kiseop dan menelponnya?! Apa dia pacar Kiseop? President kan melarang kita pacaran.” Ucap Kevin dalam hati.
“…vin!! Kevin!! Kev! Kau ini daritadi dipanggil tidak menoleh! Kau daritadi kemana sih? Sibuk dengan duniamu sendiri. Heran.” Ucap Kibum menggoyang badan Kevin agak sebal.
“ah, mianha,” jawab Kevin
Mereka selesai makan dan bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
“thanks for those delicious foods.” Ucap member U-KISS hampir bersamaan.
“yes. Come back again next time~.” Jawab Hyojin tersenyum manis. Senyum yang selama ini membuat Kevin menjadi seperti bukan dirinya sendiri.
“kalian duluan saja. Aku akan bantu-bantu di sini. Hati-hati yeorobun!” ucap Kiseop
“lain kali ajak aku kalau kau mau tinggal lebih lama di sini, Seop!” ucap Alex bergurau, disambut tawa member yang lainnya.
***
Kali ini setelah selesai latihan, Kevin pura-pura pinjam ponsel Kiseop untuk mencoba menelpon iphone-nya. Dengan segera Kevin menyalin nomor ponsel Hyojin. Setelah selesai, Kevin pamit pulang duluan. Di kamarnya malam ini.
to: Hyooo~
Annyeonghaseyo~ ini aku Kevin. Aku dpt nomormu dari Kiseop. Tak apa kan aku mengirim sms padamu? babbeulkayo?”


Tak berapa lama kemudian, Hyojin membalas. Mereka pun saling berkirim sms.

from: Hyooo~
Annyeonghaseyo! Oh, kau Kev! Of course, no problem. Tidak terlalu, kenapa?


To: Hyooo~
Ah aniya. Aku hanya bertanya. Oh ya, seminggu yang lalu, kenapa kau tidak mengirimiku e-mail? Aku kan sudah menuliskan alamatnya?

From: Hyooo~
e-mail? Alamat? Kau tidak pernah memberikannya. Memangnya ada apa?

To: Hyooo~
Jinjja?! Kau tidak menerima kertas kecil apapun?

From: Hyooo~
Ye, jeongmal. Aku tidak tau apapun.

To: Hyooo~
Ah, ne. gwaenchanha. Mianha, aku masih ada urusan. Nanti kita sambung lagi ya~

***
Kevin segera berhenti mengirim message kepada Hyojin dan terduduk.
“jinjja! Neon jeongmal babo babo! Pasti kertas itu jatuh! Bagaimana bisa aku menyalahkan Hyojin? Dia bahkan tidak tau apa-apa! Ah, aku rasa aku harus berkata secara langsung kepadanya di sekolah besok. Masalah ini sudah terpecahkan.” Ucapnya pada diri sendiri.
Kevin merasa lega dia sudah tau apa penyebab Hyojin tidak mengiriminya e-mail dan membuatnya menunggu seperti ayam akan bertelur.
“Kevin-ah, you’re really going crazy because of her! aku tidak tahu bahwa rasa yang aku pendam selama 1 tahun ini bisa menjadikanku setengah gila. Ditambah lagi keberadaan Kiseop! Aku harus lebih dekat dengan Hyojin dan menyingkirkan Kiseop darinya. Ah, gara-gara statusku sebagai member U-KISS, aku tidak bisa dekat dengannya di sekolah.” Ucap Kevin berbicara pada dirinya sendiri seperti orang gila.

Wednesday, October 13, 2010

Kejelasan tentang SHINee's incident

TAKE OUT WITH FULL CREDIT

" Yuanita Indah Putri October 13 at 9:12pm Reply • Report

Jadi saya mau meluruskan rumor yang beredar. Saya beserta kelima author yang lain adalah saksi hidup yang ngeliat shinee pas keluar dari stadium , jadi kita semua tau seluk beluknya, jadi perhatian, saya nggak cuma asal ngomong, saya juga punya bukti-buktinya, jadi saya menceritakan semuanya ke pembaca .

Jadi konsernya tuh selesai sekitar jam 9.30, setelah konser selesai kita langsung keluar dari stadium. Pas lagi jalan keluar desek-desekan, tiba-tiba di luar para Shawol yang ud berhasil keluar teriak-teriak semua, otomatis sebagian besar shawol yang lagi desek-desekan mau keluar langsung cepet2 keluar krena kalo biasa nya uda pada triak-triak artinya Shinee lewat ato keluar . Pas uda keluar semua langsung lari ke arah kanan, karena saya terbawa arus saya jadi ikut lari ke kanan, pas nyampe sana kaga ada apa-apa. Akhirnya saya balik lagi ke depan pintu masuk ngumpul sama temen-temen saya. Terus itu sempet terulang berkali-kali, jadi saya tuh kebawa arus, lari bolak-balik dan ternyata gada apa-apa. Dan karena saya capek lari-lari, akhirnya saya ikut ngumpul aja di depan pintu yang mnurut rumor bakal jadi pintu keluar Shinee.

Saya sempet nunggu beberapa lama, tapi Shinee ga kluar2, cuma kayaknya ada yang lambai2 dari dalam. Terus semua shawol mulai teriak2 Shinee-Shinee lagi, abis itu shawol teriak2 ‘kasih jalan, kasih jalan’. Tapi gada hasil, tetep aja itu tempat penuh sesak ga ada jalan. Karena cape nunggu, saya ngusulin temen saya kalo mau liat shinee kita mendingan ke deket busnya aja. Terus temen saya setuju dan kita jalan ke ke arah yang sepi. Nah, waktu kita lagi jalan ke sana, dari pintu yang kecil ada beberapa shawol yang lagi bikin barisan gitu, terus ada beberapa body guard yang menjaga sambil mondar-mandir serem dan panitia yang nyuruh kita diem2 jangan berisik, karena bisa ketauan kalo Shinee bakal keluar dari situ . Saya sama temen2 saya pun baris di paling depan nungguin Shinee kluar. Waktu saya baris masih ga begitu rusuh. Nah, beberapa saat kemudian panitia makin sering bolak balik sambil nyuruh kita bikin jalan.

Sekitar jam 9.00 , dari arah dalem mulai terdengar teriakan shawol, yang ga begitu kenceng, karena cuma sedikit shawol yang nyadar kalo shinee bakal keluar dari pintu itu, hampir semua shawol masih nunggu di pintu yang satunya lagi sambil triak2. Dan akhirnya mereka pun keluar, saya ga tau siapa yang keluar paling pertama, kata temen saya yang pertama itu key, tapi saya ga liat, yang saya liat malah Jonghyun dan saya berhasil moto dia,


Nah, bisa bayangin kan kalo jalannya cuma segede gitu, shawol yang ada di sini tuh mungkin ga nyampe 100 org, yang lainnya masih ketipu nungguin di depan pintu yang 1 lagi. Pas Jonghyun keluar para Shawol yang ada di depan dan belakang saya masih ter kontrol, terus tiba2 dari belakang saya pada dorong2 semua, saya jadi terpaksa nahan, padahal niatnya mau moto yang banyak. Terus Minho keluar sambil makan lollipop, imut dan ganteng banget ,saya sampe gemeteran. Tiba2 dari arah yang berlawanan dari saya shawol mulai lepas kontrol, body guard nya juga uda ga kuat nahan, jadi kita semua terdesak. Saya langsung mundur karena takut. Terus keadaan makin kacau.

Selanjutnya Taemin yang lewat. Dan untuk Taemin, dia ga jatuh, cuma kayak nunduk dan ampir berlutut karena dia pas ada di depan saya *coba dia berlutut di depan gw* , jadi saya ngeliat jelas, dia tuh ga jatuh. Dan pada saat nunduk itu kayaknya karena dia agak marah, dia langsung berontak gitu karena ditarik-tarik shawol.Pada saat dia lewat tuh keadaan uda rusuh banget, motor di sebelah saya udah jatoh nimpa kaki saya, dan pada saat saya lagi sibuk ngangkat tu motor Taemin berdiri pas di depan saya. Terus saya ga bisa liat lagi karena udah tenggelam di lautan manusia, tapi dia cakep banget loh. Saya menyimpulkan kalo dia itu kesel karena mereka harus ngejar pesawat yang berangkat 2 jam lagi.

Dan Onew, emang bener dia tuh di jambak dan di tarik-tarik, saya ga bicara sembarangan, karena saya melihat sendiri, dan dia kayaknya agak marah karena di jambak dan bajunya ditarik-tarik , walaupun saya ga punya bukti fotonya, karena masa dalam keadaan rusuh kayak gitu saya masih foto-foto Onew di jambak , kan kasian. Dan temen saya tuh sempet tarik2kan spidol sama Minho ??? *jgn nanya kok bisa, saya juga gatau ,yang pasti spidol saya tuh di pegang ama Taemin*

Dan satu lagi, pas Jonghyun lewat itu, Shawol masih terkontrol, jadi berita kalo kaki Jonghyun cedera gara2 Shawol anarkis, itu gak bener, pas dia lewat kita masih tenang2 aja soalnya, Shawol mulai rusuh tuh pas Minho lewat, Jonghyun uda lewat . Urutan jalannya gini soalnya : Key, Jonghyun, Onew, Minho, dan terakhir Taemin.

Nah, jadi mohon jangan nyalahin Shawol Indonesia, karena ini salah semua yang ada di sana, termasuk panitia dan body guard, karena menurut saya body guardnya itu kurang banget dan mereka kayaknya ga siap sama sekali dan gada koordinasi yang baik. Body guard nya juga, maaf, bukannya saya mau nge-bash ato nyalahin gimana , mereka itu terlalu kasar kerjanya dan lelet banget . Keadaanya emang sesek , terus shawol yang di seberang saya tuh dorong-dorongan dan mulai oleng dan akhirnya jatuh waktu Taemin lewat , jadi keadaan di sana tuh bener2 rusuh banget deh. Saya sama temen2 saya yang kebetulan berdiri di paling depan sampe jadi tameng buat nahan shawol yang dorong2 di belakang, karena kasian kan yang di depan saya* baca: shinee mo lewat*

Akhirnya saya minggat dari sana karena keadaan makin di luar kontrol, pot bunga banyak yang jatoh dan pecah. Dan menurut sumber terpercaya, di bus menuju bandara Taemin cuma duduk doang keliatannya capek banget, Onew sama Key katanya masih mondar-mandir di dalam bus. Jonghyun ama Minho ga tau ngapain. Dan mereka gak kenapa-napa. Mereka maklum dengan apa yang terjadi, karena kita Shawol itu atunsias banget menyambut mereka. Jadi itu bisa jadi bukti cinta Shawol ke SHINee walaupun agak rusuh.

So, All shawol in the world, they’re okay, and please don’t blame Indonesian Shawol for what happened, we didn’t know that it’ll be like that. It’s under our control. They won’t be happy if we Shawol fight each other. Ok?? :D

Besok saya mau bagi-bagi pic pas mereka perform yaa

By: Author 3 | http://supersapphirepearls13.wordpress.com/

src: my own eyes dan camera :P

---------------------------------------------------------

apa yg diceritain author diatas itu real!!! jadi kalian harus percaya~ :) karena aku (Yuanita) jelas2 ada di tempat kejadian itu juga, aku pas dibelakang kerumunan shawol yang jatuh dideket Taemin -.- kalo kejadian yg menimpa Onew aku gak ngeliat chingu jd gatau pasti. "


ini message yang ak dapet dari FB dan aku sama sekali ga merubah apapun. aku post foto2nya

Tuesday, October 12, 2010

hey again!

well, finally I posted some parts of my FFs. it's still lacking in words and structures even I used Indonesian ><

nobody's perfect, okay? heheh!


PLANS:
1. make a new FF to my beloved dongsaeng Naomi
I will make FF about her and Dongho as her request

2. finish all FF
I still have err... about 4 FFs which is not complete yet -oo-, it's because I don't have enough time to finish it. I'm sure I'll finish it soon :p

anyway! I will performing dance cover with my new mixed group from Amanogawa. well, at first AMANOGAWA is Japanese community, but since KPOP is very addicted to many people, we are now j-comm and k-comm too (maybe) LOL!

now I still finishing my dance movements :) wish me luck!

When The Flower Blooming [part 2]

Keesokannya, Kevin datang terlalu pagi ke sekolah. Kevin berjalan pelan-pelan melewati gerbang dan sesekali melihat ke belakang. Pandangannya tertuju kepada seseorang yang keluar dari sebuah mobil. Hyojin dan Kiseop.
“bye~ mianhae aku hanya bisa mengantarmu. Besok lagi ya~” ucap Kiseop
“aniya, gomawo sudah mengantarku. Kau tidak perlu repot, Seoppa.” Ucap Hyojin lalu melambai sampai mobil Kiseop menghilang dari pandangan.
“mereka lagi!? Jinjja! Ini membuatku marah!” dalam hati Kevin merutuki dirinya sendiri. Dia menendang kerikil-kerikil cukup keras tanpa melihat ke arah depan. Menendangnya sekuat tenaga
“au! Sakit!” ujar suara seseorang.
“eh?! Mianha!” ucap Kevin kaget dan mendongak. Lebih kaget lagi ketika tau bahwa suara itu suara Hyojin.
“ah, gwaenchanha.” Ucap Hyojin berusaha menjauh. “jangan sampai dia berhasil ada di dekatku. Aku tidak mau kena masalah hanya karena dia ada di dekatku.” Lanjutnya dalam hati. Hyojin setengah berlari menuju ke kelasnya. Meringis kesakitan. Rupanya kerikil tadi cukup tajam dan menyobek kulit di daerah betis Hyojin.
“aah~ Hyojin-ah! Kakimu berdarah!” ucap Min-A kaget
“eh?!! Gyaa~ berdarah!” ucap Hyojin kaget dan buru-buru mencari tissue di tasnya. Sebelum berhasil menemukan tissue, tangan Kevin terulur dan mengelap darah yang menetes di betis Hyojin
“jeongmal mianha. Nan jeongmal molla. Aku tidak fokus tadi, mianha.” Ucap Kevin menunduk dan minta maaf.
“ah~ aniya, gwaenchanha.” Jawab Hyojin refleks menarik kakinya menjauh.
“ayo aku antar ke ruang kesehatan. Kau ini ada-ada saja.” Ucap Min-A heboh.
***
“babo! Babo! Bagaimana bisa aku melukai kaki Hyojin?! Aa.. aa.. sakit!” ucap Kevin pada dirinya sendiri. Kevin menendang tembok dan menggerutu kesal. Kelas masih kosong. Kevin merasa sangat bodoh. “ini semua gara-gara Kiseop!” tukasnya dalam hati dengan perasaan berapi-api. “ah, Kevin!! Neon jeongmal baboya! Why you didn’t ask her to go there together?! Why you let Min-A go with her!? Aish!!” Kevin terus menyalahkan dirinya.

Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring. Kali ini Kevin masih ada banyak schedule dengan U-KISS member. Dengan terburu-buru Kevin menulis surat pendek di secarik kertas dan segera menyelipkan di kotak pensil Hyojin.
“to: Hyojin.
Mianha atas kelakuanku tadi. Aku benar-benar tidak sengaja dan aku tidak tau kalau kerikil itu bisa sampai melukaimu. Aku harap kau mau memaafkanku. Oh iya, aku ingin bertanya satu hal. Kirim aku e-mail ke sini ya ‘kevinwoo@hotmail.com’ gomawo! Aku harap kau akan memaafkanku. Jeongmal mianha! Sekali lagi mianha! -kevin”
Kevin langsung keluar kelas setelah menulisnya, berharap bahwa Hyojin membacanya saat itu juga.

***
“aigoo~ capeknya. Aku masih harus ke ruang OSIS untuk rapat hari ini.” Ucap Hyojin pelan dan mulai beres-beres.
“Hyojin Hyojin babo~ ayo kita pulang!” ucap Hani menyenggol meja Hyojin. Kertas dari Kevin terjatuh.
“aigoo, aku masih harus rapat hari ini. Kau pulang duluan saja sana. Bucha bucha~” ucap Hyojin tanpa tau apapun mengenai surat Kevin.
***
Malam ini, Kevin terus memandangi layar komputernya dengan harap-harap cemas. Dia berharap e-mail dari Hyojin akan segera sampai. Berkali-kali dia me-refresh e-mail page sambil terus mendengarkan lagu dari i-pod biru mudanya.
“Kevin! Makan malam sudah siap dari tadi. Turun dulu dan makanlah!” ucap ibu Kevin sedikit berteriak
“Kevin-ah! Turun dan makan! Jigeumiya!” sahut sang kakak, Deanna, dengan tidak sabar.
“aish! Ne!” ucap Kevin segera turun menuju ke meja makan.
Semua makan dengan tenang, kecuali Kevin. Makan dengan terburu-buru. Dia tidak ingin terlambat membalas e-mail dari Hyojin. Keluarganya merasa risih dan terganggu.
“makanlah dengan tenang. Kenapa sih kau hari ini!?” ucap Deanna sebal melihat kelakuan sang adik.
“diamlah noona! Eomma aku selesai.” Ucap Kevin segera mengambil air putih dan membawa beberapa snack ke kamarnya.
“ya! You stubborn guy!” ucap Deanna menahan amarahnya. Ibu Kevin hanya bisa geleng-geleng kepala.
***
Kemarahan Deanna tidak terdengar lagi setelah Kevin mencapai kamarnya. Ada pemberitahuan baru. E-mail masuk. Dengan semangat Kevin membuka e-mail tersebut. Alangkah sebalnya saat dia tau bukan e-mail dari Hyojin melainkan dari Kibum. Cukup lama Kevin terdiam di depan komputernya hanya untuk menunggu e-mail dari Hyojin. Waktu menunjukkan jam 1 dini hari. Rasa kantuk sudah menggelayutinya sedari tadi. Kevin menyerah dan mematikan komputernya. Ada beberapa panggilan tak terjawab di i-phone Kevin. Tidak dihiraukannya, langsung tidur. Perasaannya sangat kesal.
“apa dia tidak memaafkanku?! Itu kan hanya karena kerikil!” ucapnya kesal. “sebegitu bencinya dia padaku?! Kenapa sih?! Apa Kiseop berbicara yang bukan-bukan tentangku padanya?!”
***
Di sekolah, sikap Hyojin tetap biasa-biasa saja. Saat kerja kelompok dengan Kevin pun Hyojin tetap ngobrol seperti biasa. Bahkan mungkin peningkatan karena bantuan ChangHoo, mereka bisa ngobrol.
“kemarin, maaf ya.” Ucap Kevin memulai topik tentang kejadian kemarin.
“ah, sudahlah. Aku sudah melupakannya. Toh itu hanya masalah kerikil. Bukan sepenuhnya salahmu.” Jawab Hyojin senyum.
“kau sibuk?” tanya Kevin mulai memancing tentang e-mail
“yang pasti tidak lebih sibuk daripada kau yang seorang artis terkenal. Haha.” Jawab Hyojin bergurau.
“ah, ha..ha..ha. kemarin malam, apa yang kau lakukan?” tanya Kevin hati-hati
“eh? Kenapa memangnya? Aku si orang biasa ini? Cuma melakukan hal-hal normal. Oh ya, ini pertama kalinya kita ngobrol ya. Haha.” Ucap Hyojin. “gawat! Sepertinya gerombolan fans fanatik Kevin mulai melihat ke arahku.” Lanjut Hyojin dalam hati
“ah, begitu. Iya ya. Ini pertama kali. Oh ya, Hyojin…” belum selesai Kevin berbicara,
“Kev! Aku ke KM sebentar ya!” ucap Hyojin memotong dan langsung pergi.
Kevin tidak jadi membahas tentang e-mail hingga pelajaran berakhir.
***
Sore ini di ruang latihan U-KISS. Suasana masih awkward antara Kiseop dan Kevin gara-gara kejadian awal lalu.
“akhirnya latihan selesai. Bagaimana kalau kita makan malam dulu? Nan jeongmal baegopha.” tanya Alexander
“ah! Ayo pergi ke sebuah kedai. Itu kedai milik kenalanku. Mungkin kita akan dapat diskon, haha.” Ucap Kiseop
“haha. Kita ini miskin ya, haha.” Gurau Kibum sambil merangkul Kevin yang hanya melayangkan senyum sekenanya.
U-KISS member segera pergi tanpa pikir 2 kali. Kevin tidak tau bahwa mereka akan ke kedai milik paman Hyojin. Sesampainya di sana, dengan segera Hyojin menerima mereka dengan senyum. Kevin terlihat sangat kaget dan bengong.
“dia kan sibuk dengan OSIS. Pulang sekolah masih kerja disini? Benar-benar pekerja keras.” Pikir Kevin dalam hati sambil tersenyum kecil
“hei, ngapain kau bengong di sana? Kemarilah!” ucap Eli menarik lengan Kevin.
“aku baru tau kalau Hyojin bekerja di sini. Apa kabar Hyojinnie, terima kasih bantuannya kemarin ya.” Ucap Kibum dengan senyum khasnya.
“Kibum hyung?! Kenapa dia juga bisa kenal Hyojin?” Kevin semakin tak habis pikir.
“ah, ye. gwaenchanha oppa.” jawab Hyojin senyum.
“Kevin hyung kemarin tidak ikut sih. Kami dikenalkan dengan Hyojin noona. Dia juga sekolah di Dongguk HS lho.” Ucap Dongho semangat.
“aku kenal dengan Kevin kok. Dia teman sekelasku.” Ucap Hyojin sambil menyajikan makanan.
“jinjja?!! Whoah, Kevin, kau beruntung sekali!” jawab Eli
Kevin semakin tidak mengerti apa yang U-KISS member katakan. Rupanya tanpa Kevin ketahui, kemarin Kiseop memperkenalkan Hyojin kepada seluruh member – minus Kevin – ketika Hyojin mengantarkan sesuatu ke Kiseop.

The Time Line [part 2]

Part 2
Tae Min sendiri baru menampakkan diri dan bersandar di tembok, Jong Hyun yang baru datang asik memutar-mutar sendok teh Key sementara Key sendiri masak untuk makan malam.
“kurasa akan lebih praktis jika Key oppa tinggal bersama kita.” Celetuk Hyo Jin.
“TIDAK!” keempat namja lain serempak menolak usul Hyo Jin. Baru kali ini mereka terdengar kompak. Mata Hyo Jin membelalak karena kaget dengan suaa koor keempat namja tersebut.
“ya!! Memangnya kenapa kalau aku satu apartment dengan kalian sih?” protes Key berkacak pinggang sambil memegang sendok sayur dan menatap ke arah yang lain, cemberut. Sendok sayurnya diacung-acungkan ke arah masing-masing namja
“aku rasa Key lebih baik tinggal bersama Jjong hyung. Tidak baik bila Hyo bersama Key terlalu lama.” Akhirnya Tae Min bersuara.
“Tae Min! kapan kau datang?!” tanya Key kaget dan langsung menoleh. Hampir saja telur yang ia goreng ikut meloncat dari wajan.
“beberapa menit yang lalu. Kau ini keterlaluan, aku datang saja tidak tau.” Ucap Tae Min merasa tersinggung.
“dia saja tidak tau aku ada di mana.” Jawab Jong Hyun sambil mengitari rak-rak buku ensiklopedi kesukaan 2 kakak-beradik jenius ini.
“aku tahu kapan kau datang, Taem. Sekitar 3 menit yang lalu.” Jawab Hyo tersenyum, manis.
“kau selalu sensitif, Hyo.” Ucap Tae Min yang mendadak sudah duduk di lengan sofa di sebelah Hyo Jin. Tae Min mengelus kepala Hyo Jin pelan.
“jangan sentuh adikku seenakmu, balita!” ucap Min Ho segera memutar kursinya dan menatap tajam ke arah Tae Min.
“Min Ho ya, berhentilah bersikap dingin kepada Tae Min.” ucap Jong Hyun lalu ikut duduk di dekat Hyo Jin.
“minggir kau, hyung! Bantu saja manusiamu.” ucap Tae Min segera duduk di antara Jong Hyun dan Hyo Jin.

(SHINee – A-Yo)

Satu panggilan masuk, ponsel Hyo Jin berbunyi. Segera Tae Min mengambil ponsel Hyo Jin dan memberikannya.
“terima kasih, Taem. Kau selalu baik.” Ucap Hyo Jin lalu menerima panggilan tersebut.
“with pleasure, my girl.” Ucap Tae Min lalu kembali bersandar di tembok.
“hentikan memanggil adikku seperti itu, pelindung sialan!” ucap Min Ho melempar sebuah buku diktat tebalnya pada Tae Min. meleset. Tae Min segera menghilang dan ada di dapur. Mencomot sedikit hasil masakan Key.
“oke, bye.” Tutup Hyo Jin. “Minoppa, sudahlah. Taem kan tidak salah.” Lanjut Hyo Jin.
“Hyo! Bagaimana bisa kau tidak risih mendengarnya memanggilmu ‘my girl’ huh?” tanya Min Ho masih panas.
“suhunya naik.” Ucap Jong Hyun sambil tertawa mengejek.
“diam kau, rambut ayam!” seru Min Ho melirik
“wow wow. Aku takut~ hahahah.” Jong Hyun meladeni Min Ho dengan candaan.
“berhentilah, Mino. Aku sudah lelah. Cepat selesaikan tugasmu. Kenapa sih kau ini? Bisa-bisanya aku yang harus menuangkan ide.” Lerai Onew ogah-ogahan sambil mengendurkan otot-otot lehernya.
“itu kan sudah bagian dari perjanjian kita.” Jawab Min Ho segera sibuk bersama Onew lagi

“makanan siap!!” seru Key dari dapur. “bisa jalan, Hyo? Sini aku bantu.” Lanjutnya segera menuju ke ruang TV.
“kau ini, lepas dulu celemekmu, cowok feminin.” Tukas Jong Hyun
“ah, bawel kau. Saat aku tidak begitu butuh, kau selalu sibuk merecokiku. Diamlah. Sana cepat makan.” Ucap Key sebal.
Mereka, para pelindung, juga makan layaknya manusia. Mereka tidur, makan, dan beraktifitas seperti manusia pada umumnya, namun bedanya mereka mempunyai tugas sendiri-sendiri yang kapan saja dapat memanggil mereka. Tentu saja berhubungan dengan manusia yang mereka lindungi. Pelindung yang bisa melaksanakan tugasnya dengan baik dan tepat, poin mereka naik perlahan. Sampai di titik tertentu, poin itu ditukar dengan derajat mereka. Seperti Onew, yang sudah menjadi pelindung senior.
“ah, tidak usah. Aku harus latihan jalan sendiri.” Ucap Hyo Jin berdiri dari sofa, terlihat sangat jelas bahwa Hyo Jin kesusahan.
“ayo.” Ucap Tae Min mengulurkan tangannya dan membantu Hyo Jin berdiri.
“kalian terlihat seperti sepasang…” kata-kata Jong Hyun terpotong karena Min Ho membekap mulutnya.
“jangan pernah katakan hal seperti itu sebelum aku yakin Hyo Jin membutuhkan.” Ucap Min Ho dingin. Tatapan Tae Min menajam ketika mendengar bisik-bisik keduanya.

Hyo Jin kecelakaan 2 hari yang lalu. Kaki kanannya patah. Saat itu, Tae Min memang ada bersamanya, bahkan bersama dengan Onew. Tapi, Tae Min gagal menyelamatkan Hyo Jin sepenuhnya. Hyo Jin memang tidak terluka parah, namun kakinya patah tulang. Pihak rumah sakit juga bingung ketika mereka tau Hyo Jin kecelakaan namun tidak ada bekas luka selain patah tulang di kakinya. Dan karena kegagalan itu, poin Tae Min turun 25. poinnya turun menjadi 225 tahun yang artinya masih jauh dari kata ‘pelindung senior’. Poin Onew ikut dikurangi 15 karena Onew terlihat oleh manusia yang menabrak Hyo Jin ketika dirinya mendadak menampakkan diri saat menolong Hyo Jin. Tae Min cukup depresi karena dia tidak bisa menjaga Hyo Jin. Bukan karena tidak mampu, tapi timing yang dia ambil tidak tepat. Tae Min menjadi lebih banyak tidak terlihat.

[ Choi Min Ho POV ]

“ah, tidak usah. Aku harus latihan jalan sendiri.” Hyo Jin segera berdiri dari posisi duduknya. Miris aku melihatnya, Hyo Jin tidak mau memakai kruk. Padahal sudah berkali-kali kuperingatkan. Aku tidak ingin Hyo kenapa-napa. Dia terlalu berharga untukku.
“ayo.” Aku mendengar Tae Min bersuara lagi, ia membantu Hyo berjalan.
“kalian terlihat seperti sepasang…” aku segera membekap mulut besar rambut ayam ini
“jangan pernah katakan hal seperti itu sebelum aku yakin Hyo Jin membutuhkan.” Aku tidak akan membiarkan kata-kata itu keluar.


Aku memang tidak suka para pelindung dan Key menyentuh Hyo. Tapi mau bagaimana lagi? Tugas Tae Min adalah melindungi Hyo. Karena keberadaan Tae Min, Jin Ki, dan Jong Hyun jugalah aku masih hidup dan bisa melindungi Hyo. Mereka sangat membantuku. Aku memang bukanlah kakak yang baik untuk Hyo. Aku terlalu sibuk dengan kegiatanku, sampai-sampai aku sering meninggalkannya sendiri. Hyo gadis yang rapuh, aku sadar itu. tapi, aku tidak mungkin melalaikan semua tugasku.

Melihat Tae Min dan Hyo berjalan beriringan membuatku berpikir, seandainya Tae Min itu manusia, pasti dia sudah bersama Hyo, persis seperti apa yang akan Jong Hyun katakan. Mungkin, aku hanya membiarkan mereka yang berada di sekitar Hyo. Meski kadang aku masih bersikap dingin. Jin Ki selalu tahu apa yang kupikirkan, Jin Ki selalu selaras denganku. Jin Ki, dia yang menjagaku tetap hidup. Well, dia cukup baik juga karena dia ikut membantu Tae Min menjaga Hyo. Aku berterima kasih padanya, secara tidak langsung.

“Min Ho! Aku rasa kau sudah mulai gila bila menyetujui Tae Min bersama adikmu.” Bisik Jin Ki dari belakang.
“huh?! Sialan kau, Jin Ki! Kau mencuri pikiranku lagi. Siapa pula yang menyetujui adikku bersama seorang pelindung balita seperti Tae Min?” jawabku ketus
“sudahlah. Kau tak perlu menjelaskannya. Ayo makan.” Lanjut Jin Ki.

Hey, Jin Ki. Terima kasih kau selalu mengerti aku. Key, Jong Hyun, Tae Min. ku harap kalian tetap melindungi Hyo sampai kita semua ditakdirkan untuk berpisah, oke?

The Time Line [part 1]

Staring :
- Lee Jin Ki – Onew
- Kim Jong Hyun – Jjong
- Kim Ki Bum – Key
- Choi Min Ho – Mino
- Lee Tae Min – Taem
- Kang Young Wook – Youngie [start from part 3]
- Choi Hyo Jin - Hyo

Part 1
[ Lee Jin Ki POV ]

Hai, namaku Lee Jin Ki. Tapi manusia dan rekan-rekanku memanggilku dengan nama Onew. Nama yang singkat dan gampang diingat. tugasku ada di bumi ini adalah untuk melindungi seorang manusia bernama Choi Min Ho. Aku bukan malaikat, bukan pula iblis. Aku pelindung, yah, dalam bahasa manusia mungkin aku sama halnya seperti malaikat. Namun bangsaku dan bangsa malaikat sangat berbeda. Jauh berbeda. Tugas kami hanya melindungi, kami tidak sering menampakkan diri di depan manusia lain, bahkan kadang tidak terlihat. Namun kami juga punya musuh layaknya malaikat dan iblis. Iblis sendiri pun menjadi musuh kami ketika mereka menggangggu manusia kami. Kami bisa dilihat oleh manusia dengan kekuatan khususnya dan manusia-manusia terpilih. Dan ternyata takdirku adalah melindungi namja bernama Choi Min Ho. Agak menyebalkan memang, kenapa aku harus melindungi seorang… NAMJA. N.A.M.J.A yang berumur 19 tahun bernama Choi Min Ho. Namun aku tidak seperti pelindung lain yang mau datang dan pergi sesuka hati mereka, aku pasti ada di dekat manusiaku. Well, dia membutuhkanku. Sangat. Itu kenapa dalam sehari aku bisa 18 jam menjadi manusia dan sisanya menjalankan tugas penuh sebagai pelindung.

Kami para pelindung adalah sosok yang dapat terlihat apabila sesuatu, dalam hal ini manusia, yang kami lindungi masih percaya penuh terhadap eksistensi dan kekuatan kami untuk melindunginya. Namun biasanya bangsa kami mendapat manusia seorang yeoja, karena sebelum yeoja itu menemukan seorang namja yang lebih ia percaya untuk melindunginya, kamilah pelindung sang yeoja itu. kebalikan dengan rekanku yang berjenis yeoja, mereka mendapatkan seorang namja. Bangsa kami jarang mendapat jenis yeoja, karena menurut kepercayaan kami yang disesuaikan dengan para manusia, namja yang harusnya melindungi yeoja. Makanya tidak heran kalau hanya ada belasan pelindung berjenis yeoja. Kami tidak dapat merubah catatan kematian mereka, hanya melindungi mereka. Contohnya, ketika manusia yang kami lindungi kecelakaan dan belum saatnya ia mati, maka tugas kami menyelamatkannya. Namun bila dalam catatan kematiannya ia akan mati karena kecelakaan tersebut, kami akan membuat diri kami tak tampak untuk mereka. Kami tidak peduli dengan kisah mereka selanjutnya setelah mati. Itulah kenapa kadang manusia kami membenci kami sedetik sebelum mereka mati, karena kami para ‘pelindung’ membiarkan mereka mati begitu saja. Sebelumnya aku selalu mendapat yeoja dan bebas tugas ketika yeoja tersebut berumur sekitar 18 tahun. Tapi sekarang tantangan yang cukup sulit.

Aku pelindung senior. Aku bisa merubah wujud menjadi manusia, berteman layaknya manusia, dan menempuh pendidikan seperti manusia lain, dan juga bisa menampakkan diriku sesuka hati. Aku sudah berumur sekitar 5,5 abad, namun di dunia manusia aku berumur 21 tahun. Dunia manusia itu rumit. Namun menyenangkan. Aku mengikuti kuliah dan masuk kejurusan hukum. Kenapa aku memilih hukum? Kurasa hanya jurusan itu yang ada sangkut pautnya dengan keberadaanku di dunia manusia ini. Toh aku tidak ambil pusing karena semua di urus oleh Min Ho.

Aku tinggal bersama dengan manusiaku. Dia yang mengatur segala tentangku di dunia manusia. Kami layaknya rekan kerja. Tetap saja aku merasa risih, kenapa harus laki-laki sih yang aku lindungi? Pemandanganku tidak terlalu bagus. Choi Min Ho tipe manusia yang susah ditebak, tapi percaya atau tidak, dia sangat populer di kelasnya. Dia memang unggul dalam bidang apa saja. Aku mencuri dengar dari para yeoja yang memujanya bahwa Min Ho menjadi populer karena tinggi, berwajah tampan, senyumnya menawan, dan romantis. Hei, sebagai sesama namja, aku rasa aku lebih baik 100 tahun darinya. Min Ho bukan seorang namja yang asik, menurutku. Dia menyusahkan. Karena aku sudah terikat padanya, dia bisa memintaku melakukan hal yang dia inginkan. Sebenarnya ini semua karena kesalahanku, makanya dia mendadak seperti bos. Untung dia bukan tipe manusia yang semena-mena terhadap pelindung sepertiku.

Aku punya 2 rekan sesama pelindung. Hanya satu dari kami, yang bernama Tae Min yang beruntung. Dia mendapatkan seorang gadis yang manis untuk dilindungi. Tae Min mendapatkan adik semata wayang Min Ho. Gadis itu sangat menyenangkan, dia menganggap kami, para pelindung, seperti saudaranya. Min Ho hanya tinggal bersama dengan Hyo Jin, adiknya itu. dia begitu menyayangi manusia Tae Min. Dia kehilangan 1 orang adiknya, kakak Hyo Jin. Makanya dia menjadi sangat sayang pada Hyo Jin. Dia bahkan tidak mengijinkan laki-laki dekat dengan Hyo Jin kecuali kami, tentunya.

[Kim Ki Bum POV]

Aku Kim Ki Bum. Namun aku lebih suka di panggil Key, kenapa? Karena aku seperti kunci. Yang dapat membuka hati siapapun. Aku laki-laki biasa, seorang mahasiswa jurusan musik, cukup terkenal – menurut teman-temanku –, berumur 19 tahun, dan mempunyai seorang pelindung. Ya, pelindung. Yang kumaksud pelindung disini bukan seorang manusia yang melindungiku, hey! Aku ini namja. Kadang aku masih bingung kenapa aku mendapat seorang pelindung, bahkan sampai diumurku yang sudah termasuk usia dewasa. Aku tinggal di sebuah apartment, bersebelahan dengan sahabatku, Min Ho. Min Ho juga punya pelindung, sepertinya nasibnya sama sepertiku.

Aku tinggal sendiri karena menentang keinginan orangtuaku. Mereka ingin aku masuk jurusan kedokteran. Aku benar-benar muak dengan darah, makanya aku memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal di apartment kecil yang direkomendasikan oleh Min Ho. Hubunganku dengan kedua orangtuaku tidak begitu baik. Aku sudah dewasa, tak perlu mereka.

Bagaimanapun, pelindungku itu cukup membantu. Namanya Kim Jong Hyun. Dia benar-benar menyebalkan, hanya kadang-kadang saja bisa serius. Lagaknya seperti orang penting. Dia selalu ada di dekatku, untung tidak banyak yang bisa melihat Jong Hyun. Aku muak memikirkan semua temanku tau aku diikuti kemana-mana. Dia kadang posesif. Bayangkan saja? Hanya karena aku pernah hampir – aku bilang hampir karena dia menolongku tepat waktu – kecelakaan 8 bulan yang lalu yang berhasil membuatku hampir kehilangan nyawaku, dia menjadi seperti seorang ibu pada bayinya setiap dia tahu bahwa aku dalam bahaya. Merepotkan memang, tapi harus kuakui, dia menyelamatkan hidupku. Katanya, aku belum cukup umur untuk mati. Sialan, aku juga belum mau mati saat itu! Jong Hyun mengaku umurnya di dunia manusia lebih tua 1 tahun daripada aku. Tapi informasi yang aku dapat dari pelindung Min Ho, umurnya adalah 5 abad. God! Enak sekali dia bisa hidup selama itu. kadang aku ingin bertukar posisi dengannya, tapi Jong Hyun selalu dingin menanggapi keinginanku
“aku bukan seorang malaikat atau Tuhan yang bisa mengabulkan keinginanmu, tau!” begitu jawabannya
Namun kadang ada kalanya aku benar-benar butuh pendapatnya. Makanya kubilang, dia cukup membantu.

[ Lee Tae Min POV]

Aku Lee Tae Min. pelindung termuda di antara 3 rekanku yang bekerja dalam waktu yang bersamaan denganku. Dari kami bertiga, hanya aku yang mendapat manusia seorang yeoja. Menyenangkan bukan? Kedua rekanku yang kupanggil hyung itu mendapatkan manusia seorang namja. Mereka memang aneh dan cocok mendapatkan manusia mereka itu. Manusiaku bernama Choi Hyo Jin. Dia adik dari manusia milik Onew hyung. Hyo, begitu aku memanggilnya. Dia gadis yang ceria. umurnya masih 15 tahun. Dia baru masuk SMA. Hyo tidak seperti gadis biasanya, dia tergolong misterius.

Aku seorang pelindung yang tidak terlalu suka ikut campur kehidupan manusia, aku hanya menampakkan diriku ketika dibutuhkan atau ketika aku tertarik dengan sesuatu, yang biasanya berhubungan dengan Hyo dan para hyung-ku itu. Jong Hyun hyung adalah rekanku yang satu lagi. Dia mendapatkan namja juga, dan hey! Beruntungnya kami, Kim Ki Bum, manusia – agak – sombong yang dilindungi oleh Jjong hyung, adalah tetangga keluarga Choi. Kami turun bersama, bekerja bersama, dan kemana-mana bersama. Sepertinya manusia Jong Hyun hyung tertarik pada Hyo.

Hyo tahu tentang Onew hyung dan Jjong hyung. Oh ya, aku tidak sudi memanggil Min Ho dan Ki Bum dengan sebutan hyung meski jika di dunia manusia aku lebih muda dari mereka. Aku dan Hyo seumuran, sebenarnya umurku 2,5 abad. Tak mungkin aku mengatakannya pada Hyo Jin. Itu akan membuatnya takut kepadaku, bisa-bisa dia tidak percaya akan adanya pelindung lagi. Aku bisa dihajar habis-habisan oleh kedua rekanku itu. Pernah sekali aku mengatakan bahwa aku bisa melihat kapan dan bagaimana manusia yang kulindungi mati. Manusiaku yang sebelumnya, dia mati karena seorang psycho. Tubuhnya di cabik-cabik seakan seorang serigala menerkam mangsanya. Organ dalamnya dijual. Kuceritakan itu pada Hyo, namun rupanya itu membuat Hyo ketakutan setengah mati dan selalu memintaku menemaninya setiap ia tidur. Oh well, dia tidak takut aku akan macam-macam karena dia tahu aku tak bisa apa-apa padanya. Aku bukan pelindung senior seperti Onew hyung, dia bisa menjadi manusia juga. Tapi aku tidak. Umurku terpaut 2,5 abad darinya, terpaut 2 abad dari Jjong hyung, mengerti kan kenapa aku tidak bisa menjadi manusia? Jika dalam bahasa manusia, aku ini masih… balita. Aku benci kenyataan itu, yang aku tau balita itu tidak bisa apa-apa sedangkan aku, bisa menyelamatkan nyawa Hyo Jin!

*&*

[ Kim Jong Hyun POV ]

“ya! Kim Jong Hyun! Ayolah, keluar!” teriakan Key terdengar lagi. Ini sudah ke-10 kalinya dia memanggilku pagi ini. Oh ya ampun, aku sedang malas sekali hari ini.
“Key! Aku ini bukan babumu tau. Bisa tidak biarkan aku istirahat pagi ini?” aku menyerah dan menampakkan diriku. Telentang di atas kasur Key. Dengan rambutku yang masih acak-acakan. Kami para pelindung menampakkan diri layaknya gambar hologram yang perlahan menjadi nyata. Itu sebenarnya kata-kata dari Key yang kuambil.
“WOA! Jjong! Bagaimana bisa kau ada di kasurku!? Bangun cepat! Kau semalam tidur di sampingku?!” ucap Key lagi-lagi berteriak. Kamarnya semakin ramai saja. Untung dia tinggal sendiri
“mm. Aku semalam tidur di sampingmu. Memangnya kenapa? Kau ini seperti seorang yeoja saja teriak-teriak tiap pagi! Aku kan tidak akan mengganggu tidurmu.” seruku sebal
“cepat bangun, aku hari ini ada kuliah. Lindungi aku.”
“ya! Kim Ki Bum! Aku bukan bodyguard-mu. Aku tahu kapan harus melindungimu, kapan aku bebas tugas.” Jawabku semakin kesal dengannya, kadang dia lebih parah daripada yeoja manapun. “kuliah saja sana! Aku pasti sudah ada di dekatmu ketika kau akan terkena bahaya. Rewel sekali sih.” Rutukku gemas melihat tingkahnya.
“aku punya firasat jelek hari ini, Kim Jong Hyun!” serunya
“semanja itukah Kim Ki Bum yang aku kenal? Tenang saja, aku pasti tahu kapan kau harus dilindungi.”
“asal kau tidak cerewet sebelum menolongku saja, okelah.” Lanjutnya segera keluar dari kamar.

Kim Ki Bum. Key. Dia manusiaku. Baru kali ini aku mendapat tugas menjaga seorang namja yang cukup rumit seperti Key. Well, aku rasa dia ini namja yang feminin. Bayangkan? Dia lebih fashionista daripada adik Min Ho, si Hyo Jin itu. dia bisa masak, mengurus apartment sendiri. Aku awalnya mengira dia itu seorang yeoja. Kadang dia baik, tapi lebih sering menjadi seseorang yang menyebalkan. Baru kali ini aku tahu ada seorang namja yang sekompleks dirinya. Aku heran kenapa dia bisa menjadi seorang yang populer, bersama dengan Min Ho. Manusia Onew hyung.

*&*

“Hyo, hari ini kau tidak masuk sekolah lagi?” tanya Key yang ada di rumah Hyo Jin lagi
“iya oppa, Minoppa ( panggilan sayang dari Hyo Jin untuk Min Ho ) dan Taem masih melarangku masuk sekolah.” Jawab Hyo Jin.
“ya! Kenapa kau melarangnya masuk sekolah sih!?” sembur Key pada Min Ho yang sedang asik membaca sebuah artikel di komputernya.
“kakinya belum sembuh benar. Tidak mungkin kan aku biarkan Hyo berjalan tertatih?” tanya Min Ho acuh. “Jin Ki, bisa minta bantuan?” tanya Min Ho tanpa menoleh
“kau kini tau kapan aku ada dan tidak.” Jawab Onew, tangannya bersedekap. Matanya memicing, dia tahu Min Ho akan meminta macam-macam lagi.
“aku sudah bersamamu hampir 2 tahun, Jin Ki.” Jawab Min Ho.
“Min Ho ya! Setidaknya panggil aku hyung!” protes Onew.
“kau bukan hyung-ku. Buat apa?” jawab Min Ho enteng, terkekeh