Sunday, October 31, 2010
afraid
i wanna post a fan fiction but it's my crazy idea. about me and taemin. doing a program like WGM but not that bad. it tells about our relationship and others. but I'm too afraid, so maybe will post later >< mianhae
The Time Line [part 4]
[Lee Jin Ki POV]
Aku benar-benar tidak habis pikir. Rupanya masih ada saja iblis yang masuk ke dalam rumah Min Ho ketika kami sedang tidak ada di dekat Hyo Jin. Sekarang aku harus membersihkan semuanya dan menarik Hyo Jin keluar. Tapi yang jadi masalahnya, iblis yang bersama Hyo Jin hanya iblis yang baru lahir beberapa hari yang lalu. Auranya tidak kuat, dan aku tidak dapat mendeteksi apa dia sudah pergi dari Hyo Jin atau belum.
Aku harus menarik Hyo Jin keluar. Harusnya ini tugas Tae Min sebagai pelindungnya, tapi bahkan iblis itu bisa menghasut Hyo Jin untuk mengusir Tae Min dari dekatnya. Aku harus bisa masuk ke kamar Hyo Jin bertiga, lengkap dengan Jong Hyun dan Tae Min. lebih baik aku segera menuju ke rumah Ki Bum.
“Onew hyung, ngapain kau ke sini?” Jong Hyun langsung melontarkan pertanyaan begitu aku sampai di ruang tamu rumah Ki Bum.
“Hyo Jin butuh kita.” Tepat setelah aku mengucap kata Hyo Jin, Tae Min menampakkan wujudnya di depanku. Rekanku satu itu benar-benar tidak bisa diatur bahkan hanya untuk masalah menampakkan wujudnya.
“bagaimana keadaan Hyo Jin?” tanyanya. Nada khawatir tergambar jelas dari wajahnya. Baru sekali ini aku melihat Tae Min begitu cemas.
“ternyata benar bahwa aku tidak bisa lengah. Masih ada iblis yang berkeliaran di sekitar rumah Hyo Jin.” Jawabku hati-hati. Aku tidak ingin Ki Bum ikut mendengarnya. Ini bukan masalah manusia.
“lebih baik kita pergi dari sini.” Ucap Jong Hyun menarikku dan Tae Min keluar.
Kami memutuskan untuk menuju ke arah atap apartment dan segera melanjutkan topik tadi.
“jadi, ada apa?” tanya Tae Min, wajahnya bertambah cemas. Dia semakin terlihat dewasa.
“Hyo Jin?” tanya Jong Hyun memancing kata-kataku
“aku butuh kalian untuk ikut aku mengusir bayi iblis yang kekuatannya mungkin saja setara denganmu, Jjong. Aku tidak tahu pasti, tapi sejak tadi sore aku mendengar Hyo Jin meraung-raung seperti orang kesakitan dari dalam kamar. Aku tidak berani masuk karena Hyo Jin tahu kapan dan di mana aku ada. Satu-satunya yang masih tidak terdeteksi oleh Hyo Jin adalah kau, Kim Jong Hyun.”
“lalu apa tugasku?”
“keluarkan Hyo Jin dari kamar. Bujuk dia bagaimanapun caranya.”
“tapi katamu, iblis itu kekuatannya bahkan sama denganku? Apa kau mau menjamin kalau aku yang hangus karena dia? Dan dia tidak tahu kapan aku ada. Bagaimana bisa aku menariknya keluar?” dari nada suaranya, Jong Hyun terlihat takut. Ini kali pertama aku melihatnya ketakutan.
[Lee Tae Min POV]
“karena kau tidak bisa terdeteksi itulah maka iblis itu pun tidak akan menemukanmu. Kau kan bisa menariknya dengan caramu sendiri. Anyway, aku tidak tahu dia ada di bawah pengaruh iblis seperti yang aku lihat atau jangan-jangan…” Onew hyung menggantung ucapannya
“penghancur! Sialan! Aku tidak bisa diam. Biarkan aku yang kesana.” Aku segera berdiri, kepalaku panas. Aku sangat benci dengan musuh bebuyutan kami itu. namun Onew hyung dan Jong Hyun hyung keburu menarikku duduk dan mencengkeram bahuku.
“sabar dulu! Kalau benar yang ada bersamanya adalah penghancur, harusnya Min Ho juga merasakan. Jadi kupikir ini adalah iblis. Aku masih belum bisa mengukur seberapa besar kekuatan iblis itu. lebih baik serahkan pada Jong Hyun. Setelah Jong Hyun berhasil bawa keluar Hyo Jin. Segera bersihkan Hyo Jin dan lindungi dia selama 24 jam penuh! Jangan sekali-kali menghilang dari hadapannya!” Onew hyung menjelaskan segalanya dengan detail. Aku masih tidak bisa berfikir jernih. Bagaimana bisa aku selalu ada di dekat Hyo Jin?
Akan segera kulakukan perintah dari Onew hyung. Ini menyangkut Hyo Jin. Apapun akan kulakukan untuk melindunginya, sebelum poinku berkurang dan aku harus pergi darinya. Aku tidak tahu sejak kapan aku menjadi seposesif Jong Hyun hyung pada manusianya. Aku hanya tidak bisa melihat wajah kesakitan Hyo Jin. Hanya 1 yang harus kulakukan,
“kita berjaga di luar kamar Hyo Jin.” Ucapnya mengakhiri penjelasan misi kami.
“kalau aku tidak keluar selama setengah jam…”
“aku akan masuk. Kubunuh iblis itu!” jawabku masih marah.
“kalau kau semakin emosi, bisa-bisa kau tidak ubahnya iblis itu sendiri! Bersabarlah! Pikirkan dengan kepala dingin.” Ucapan Onew hyung kali ini berhasil menenangkanku sedikit.
Akhirnya setelah kami berhasil menyusun misi, kami bertiga segera turun dan kembali ke rumah Key.
[Kim Ki Bum POV]
Sebenarnya ada apa sih dengan mereka ini? Sekarang mereka malah meninggalkanku di rumah. Lebih baik aku keluar sebentar. Dasar para pelindung, banyak sekali sih rahasia di antara mereka dan manusia? Aku jadi ingin seperti mereka.
Tok..tok..tok…
Label:
Choi Minho,
Fan Fiction,
Hyojin,
Kang Youngwook,
Kim Jonghyun,
Kim Kibum,
Lee Jinki,
Lee Taemin,
SHINee
Watch Your Watch (english) [part 1]
Watch Your Watch
Watch you watch
Dongho/Youngie (Kang YoungWook)
SHINee – One
“I don’t want to! Let me go now!”
“you will go with me, now!”
“Dongho-ya, stop it for real!”
Kang Young Wook
Today is my first day to enter my new high school. I enter this school just because dad force me to. For serious I really don’t want to have an english class. It’s all because dad is part of main department in charge of guarding the president of Korea.
Dad want me to be like mom. Mom is a singer and model. She’s great in english just like dad. But I really don’t wanna be like them. I just want my days like another girls in my age. Going to mall to shopping without any bodyguards, play with friends, and maybe have a boyfriend?
It’s really tiring when your days full of tasks and your parents still send you to special school to get lessons about the methods to be high state officials. Yes, I’m the only child in my family. That’s why I must bear a burdens as dad’s successor.
The only words suits me right now is just. My life is really suck. I just enter the first gate and hell. Many people – new friends – who are childrens of dad’s colleagues in his department start surrounded me and ask me to make friends with them. They just want me being their friends to abuse me, maybe.
I really miss my old years. When I still in the first grade of my elementary school time. I haven’t moved to Seoul that time. The short but most precious moments in my life.
The welcoming new students ceremony just end and now I already enter my class. Thanks God, dad didn’t put me in special class. Special class is for childrens of high state officials. I wanna have a true friends. Not just business friends.
**
Shin Dong Ho
Always like this if new school year coming. There are many childrens of high state officials come to my school. Okay, they will be my junior. It’s still really hard to believe I study here and I just move to the second grade.
I still handle the student council. I like to see many people come when there are new events or announcement made from us – student council – and see them both smiling or sighing. Especially when exam weeks come, they are really funny. They can make many differents expression. I got many inspiration from them.
As a head of student council, I got my own room. It’s really good for me. I’m not in the same level of them who come from middle up families. I just an ordinary boy who got my luck to study here. It’s all because of him.
The man who help me to enter this school is a member of school committee. It’s an old story, but for the truth, he is my inspiration. I wanna be like him. I will make him proud of me even if he already forget me.
**
“Dongho-ya. We still have a briefing soon. C’mon let’s go.” Said the boy. “oh. Okay. I’ll coming. Just a minute, please.” The boy called Dongho replied. “you mustn’t late.”
“I won’t, Taemin. Just trust me. How long did you work with me, huh? If I can’t come, you still can lead the meeting.” Dongho answered easily. “I’ll make you out from your room if you dare to do that.” Taemin just poke Dongho’s back gently. “okay, okay. Don’t disturb me now. I’ll finish my report.” He answered and smile. Bright smile.
The council briefing just ended a minute ago. Dongho, Taemin and their fellows back to their own classes. “Dongho-ya. There is a girl asked me yesterday about you. I think he attracted to you.” Taemin start their conversation. “attracted to me? You kidding? She must be like you and asked about me so she can talk with you.” Dongho quibble and just smiling.
“I’m serious. And you know? She’s one of our school committee’s child.” Taemin still goes on. “Taemin-ah. You knows me well, don’t you? I don’t like them. I didn’t suit them, at all.”
“Dongho-ya. You are the head of student council. Who don’t like you? You’re clever, attracting, have many relations, good at manages everything you handle …” “I doubt something. Are you sure there are a girl who asked about me, or just you the one who want to date with me, huh?” Dongho start joking. “hey! I’m not gay. I know all about your bads. Even if I’m a girl I won’t date you, heck.” Taemin pretended to be offended.
“haha. Really? I’m sure if you’re a girl I will dating you.” They finally enter their classroom and sit. Taemin is vice chairman in student council. He always besides Dongho. Taemin is Dongho’s best friend. Like Dongho said before, just Taemin who knows him well.
The bell is ringing. Breaktime start. As in another usual high school. The canteen is crowded. When Dongho comes to canteen, there are some girls – seems like they are his junior – come closer and give him chocholates and even lunch box and go in sudden. Taemin who stands beside Dongho try to not laughing and just turn around.
Dongho quickly drag Taemin and go from that place. They arrived at school backyard. “hahaha. I already told you, Mr. Shin Dongho. You’re popular.” Taemin can’t held his laugh anymore. “aish, this kid! Go eat this all.” Dongho passed all his gifts to Taemin’s hand. “ya! Ya! Where will you go!” Taemin hold Dongho’s uniform.
When they stop joking, there’s a girl appear in front of them both. Jumped down from the tree branch and straighten her hair and uniforms. Dongho and Taemin shocked and just stare at her. The girl seem didn’t see they two because she just walk without any words.
“who is she?!” Taemin asks, finally. “why you ask me?” Dongho still half lost his mind. “is it possible if she is a …” “ya! Don’t say something like that! Let’s go.” Dongho left Taemin behind. “wa… wait me!”
Label:
Dongho,
Fan Fiction,
Kang Youngwook,
Lee Taemin,
U-KISS
MINE [part 2]
“Hyo, ikut aku.” Ucap Jiko menggamit lenganku dan kami semua menuju ke balkon.
Mereka tidak berkata apapun, namun segera Chomi, Jiko dan Kibum segera membentuk lingkaran dan segera Taemin dan Jin berada di antara mereka, mengelilingiku.
Aku tak ingat lagi, yang kutau, aku melihat kejadian yang sangat mengerikan. Kecelakaan yang menimpa orangtuaku. Aku shock dan terjatuh. Aku bagai ada di sana. Menyaksikan dengan kedua mataku sendiri. Kedua orangtuaku tergeletak tak berdaya. Eomma dan adikku yang akan lahir terpental dari mobil, aku melihat kejadiannya. Appa terjepit di dalam mobil. Aku tak dapat menuliskannya, terlalu mengerikan.
Aku bangun dan kurasakan tubuhku penuh keringat dingin serta air mata. Kibum memelukku dengan erat. Aku melihat Taemin memalingkan muka dariku, yang aku tahu mereka semua menangis bersamaku. Jin ada di samping Kibum, menarik Kibum dariku.
Aku tak ingat lagi, Jiko cerita bahwa aku pingsan hampir seharian. Kejadian itu membuatku menutup diri dari mereka. Aku merasa aku tak bisa berteman bersama mereka lagi. Aku marah pada mereka yang membiarkanku tau kejadian sebenarnya. Saat itu aku marah dan meninggalkan mereka. Aku merasa bersalah dan selalu menghindar dari mereka.
Tahun terakhirku di Jeonju EES, kulewati dengan menjauh dari mereka. Taemin juga tidak pernah muncul, namun aku sadar bahwa Taemin selalu mengawasiku. Aku masuk ke Jeonju Middle School For Girls. Aku berusaha melupakan mereka. Saat itu yang kutahu Kibum pindah ke Seoul, tentu bersama Jin. Tahun kedua aku sekolah di Jeonju MSFG, aku dapat kabar bahwa Chomi dan Jiko juga pindah ke Seoul.
Setelah lulus SMP, aku merasa amat kesepian. Aku merindukan sahabat-sahabatku dan memutuskan untuk ikut pindah ke Seoul dengan menjual rumah dan menempati sebuah apartment sederhana. Saat itu aku mulai menerima kembali kehadiran Taemin. Taemin selalu bersamaku. Aku mulai membuka diri kepadanya. Aku mulai mengingat yang lain dan secara diam-diam mencari tahu tentang mereka. Jiko dan Chomi berada di Cheongdam High School. Kibum ada di Seoul International High School.
Aku bekerja sambilan di sebuah restoran untuk menghidupiku. Aku mulai kembali bertemu dengan Jiko, Kibum dan Chomi. Mereka pindah ke apartment yang sama denganku. Aku sering kecolongan, Kibum kadang membayariku sekolah, atau uang sewa apartment. Ada saja yang ia lakukan tanpa izinku. Namun aku tak dapat menolaknya, aku merasa kembali hidup ketika bersama mereka.
**
“Hyojin.” panggil Jiko yang mendadak ada di balkon jendelaku
“Jiko! Berapa kali ku peringatkan?!!” aku seperti tersengat listrik, dan segera menimpuknya dengan bantal kepik kesayanganku.
“mianhae. Temani aku.” Ucap Jiko segera masuk dan duduk di meja belajarku
“kemana?”
“kemana saja.” Ucapnya sambil membenahi rambut berantakannya, yang tidak pernah rapi
“pasti kau ada masalah dengan appamu lagi. Baiklah.” Jawabku menyambar jaket abu-abu yang tergeletak di kasurku. Belum sampai di pintu,
“Hyoji~~n! yohooo~” ucap Kibum masuk ke kamarku tanpa izin. Bersama Jin tentunya
“mian, Hyo. Aku sudah peringatkan dia,” ucap Jin merasa bersalah
“apalagi ini!!??” aku memutar bola mataku yang segera tertumbuk ke arah meja komputerku. Benar saja, di situ sudah ada Taemin, malah dia hanya tersenyum.
“Hyojin, aku kemba… kalian ngapain di sini?” tanya Chomi.
Lengkap sudah! Kelima perusak – maksudku pelindungku – ada di sini.
“Jinki hyung, ngapain kau ada di sini?” tanya Kibum
“aku mau mengajaknya jalan-jalan.” Jawab Jiko segera merangkul pundakku. Taemin segera menepis tangan Jiko dan menatapnya tajam
“berani menyentuhnya sekali lagi, kulenyapkan kau!” ucap Taemin
“akhir-akhir ini kau jadi sensitif, Taem.” Ucap Jin
“aku paling tidak suka ada orang yang berusaha menyentuh sesuatu yang kulindungi.” Serunya lalu menghilang, dan tiba-tiba ada di kasurku. Dia bilang aku ini ‘sesuatu’? dasar bocah sial!
Seperti biasa, berakhir di meja makan. Kibum memasak untuk kami, aku bercerita apa saja pada Chomi, bermain dengan Jin dan Tae eonni, dan Jiko sibuk dengan makalahnya. Dia baru masuk kuliah sih.
**
“Hyojin sebentar lagi akan menjadi seorang lady.” Ucap Jonghyun
“Hyojin itu perempuan, namun dia selalu bersama kita. Kita ini terlalu jahat ya.” Celetuk Kibum
“daripada menyerahkan Hyojin pada orang yang tidak dikenal, aku lebih suka melihatnya berada di antara kita. Meski aku agak tidak suka dengan sikap Jinki yang akhir-akhir ini menempel terus pada Hyojin-ku.” Ucap Taemin mendadak ada di sebelah Kibum
“Hyojin-MU?” tanya Jinki agak tidak terima
“ya! Aku sudah bilang berkali-kali jangan datang tiba-tiba!” ucap Kibum melempar sendok es krimnya ke arah Taemin. Segera Taemin menghilang dan berdiri menyandarkan diri di tembok.
“aish, jinjja! Kau ini, berlakulah seperti manusia sedikit!” protes Kibum sebal
“kadang aku berpikir, akankah di antara kita terlibat cinta dengan Hyojin?” tanya Minho, masih dengan nada datar.
“ya! Kau tiba-tiba mengatakan sesuatu yang ganjil ditelingaku!” ucap Jinki menimpuk Minho dengan bantal.
“aku kan hanya bertanya.” Jawab Minho melempar kembali bantalnya ke Jinki
‘her whisper is the lucifer…’ [Hyooo calling…]
Label:
Choi Minho,
Fan Fiction,
Hyojin,
Kim Jonghyun,
Kim Kibum,
Lee Jinki,
Lee Taemin,
SHINee
This Thing (full english) [part 1]
this is the first time I wrote my ff in English. and my English still very much lacking. please forgive me if there are still many wrong structures or words or anything. please enjoy and comment. :)
This Thing
This Thing
He just sit in the corner of the class, in silence. He keep silent. Not waste his time to look over this empty room. Stay still. The tears start falling without he noticed. He don’t know anything. Why. How. Where. What. Which one. When.
But suddenly something pooped up with a gentle voice. Something shining and it’s looks like flying over him. Something who is look like a human after its form finally complete. Which is a girl. Lean on his shoulder and start sighing harshly.
He doesn’t care, though. Still tearing. The girl stay leaning. They are both tearing now. No one talking, but their hands stick out together in sudden. “you’re my human.” She said. His eyes open and getting bigger. Shocked but didn’t move at all. “you are the one whom I must take care of.” She continued. Then leaving
Taemin just stand up for a second. Wipe his tears and take his bag. Go home. Nothing else come in his mind. He feels the girl pulled him to go home. Rain pouring hard when he’s out. Wind changes into storm. But Taemin still walks in his way to home like this time is sunny day.
*=*
“what’s guardian? I don’t need any of.” He said confidently on his bed. His eyes closed thightly. “I’m not live, already.” “that’s why I said I’m your guardian.” The girl start shouting and her aura goes darker.
“what’s your purpose?” ask Taemin careless. “your hyung order me to. He’s no longer my human.” She explain it in a simple way. “you’re hyungs? And he give you to me now? He dumped you.” Say Taemin mocking her.
“It’s good. I didn’t fit in him, anyway. But I can feel what did you felt.” The girl just answer it easily. “what did hyung do to dumped you?” Taemin shows his dissapointment clearly. She just sighing slightly and answer, “ask him personally.” Before Taemin opens his eyes, she disappear. Taemin just smiling plain.
Taemin wants to sleep more. Sleep like dead. But he can’t. his eyes already open widely. He never thought he still crying like 2 years ago, but the hurt didn’t up again. “I still alive. But I also have no heart. I’m turning into something like a robot or maybe a zombie. And who’s that girl anyway? She’s irritating.” He whispered softly. Clueless. She still in Taemin’s room. Watch every movements he did. Hears every single words he spoke. But just smiling and then going back to her own hometown.
The boy starts crying. He can’t stop his tears. It’s getting hard for him to breath. He just realize that it didn’t hurt anymore. He just want to. But has no feeling about what has happening right now. He wipe its and rub his eyes. But how much he wiped it, still same.
The poop sound comes again. She comes but just stand away like before. Not disturbing. She knews all about him, always looking at what he had done. But, she just doesn’t want to appear in front of her human.
to be continued . . .
Label:
Choi Minho,
Fan Fiction,
Hyojin,
Kim Jonghyun,
Kim Kibum,
Lee Jinki,
Lee Taemin,
SHINee
Thursday, October 14, 2010
The Time Line [part 3]
Hyo Jin masih belum bisa masuk hari ini, dan karena Min Ho sibuk dengan kegiatan di kampusnya, Jin Ki sibuk dengan praktek hukumnya, dan Ki Bum ada konser kecil yang diadakan oleh jurusannya, akhirnya Hyo Jin hanya ada di rumah bersama dengan Tae Min dan Jong Hyun. Hyo Jin hanya duduk di kursi piano dan memencet tuts-tuts piano tanpa niat.
“hey nona manis.” Ujar Jong Hyun yang mendadak ada di atas piano Hyo Jin
“ash! Oppa!” Hyo Jin hampir berteriak saking kagetnya
“kau kaget karena kedatanganku, Hyo?” tanya Jong Hyun sedikit tersinggung
“ehm.. iya. Habis oppa mendadak ada di atas piano.” Ucap Hyo Jin agak salah tingkah. Takut menyinggung perasaan Jong Hyun.
“tak apalah. Di mana Tae Balita?” tanya Jong Hyun celingukan
“dia ada di mana-mana. Jika oppa tanya di mana dia, aku tak dapat menjawab dengan pasti.” Ucap Hyo Jin datar
“kau selalu tau tentangku, Hyo. Hyung, kau tak mendapat tempat di hatinya, makanya dia tidak begitu sensitif tentang kedatanganmu. Lagipula, ngapain kau di sini?” tanya Tae Min yang mendadak sudah ada di jendela, jongkok.
“kau!” ucap Jong Hyun melempar sendok tehnya ke Tae Min, namun Tae Min sudah menghilang dan kembali menampakkan diri di atas sofa.
Jong Hyun dan Tae Min pun memulai pertengkaran kecil ala mereka sedangkan Hyo Jin mengambil 1 kruknya dengan terpaksa dan mulai berjalan ke arah jendela. gerimis mulai berubah menjadi hujan deras. Langit amat mendung dan gelap.
“ada apa, Hyo?” tanya Tae Min dari belakang Hyo Jin, suaranya terdengar lembut
“eh.. oh.. tidak ada apa-apa.” Jawab Hyo Jin sekenanya
“beritahu aku.” Ucap Tae Min. kini nadanya lebih tegas
“aku hanya khawatir dengan Minoppa, Onew oppa dan Key oppa.” Ucap Hyo Jin pelan
“ah! Key. Dia baik-baik saja.” Jawab Jong Hyun sembari menyeruput tehnya lagi
“tenanglah. Onew hyung ada bersama mereka.” Ucap Tae Min lalu membantu Hyo Jin duduk di sofa
“aku rasa, aku lebih baik tiduran saja.” Ucap Hyo Jin yang segera masuk ke kamarnya.
*&*
[Kang Young Wook POV]
Namaku Kang Young Wook. Sama seperti orang lain, jika kalian mengenalku atau mengetahuiku untuk yang pertama kali tanpa bertatap muka, kalian pasti mengatakan bahwa aku adalah seorang… namja. Di sini akan kutegaskan bahwa aku seorang YEOJA. Yeoja. Perempuan. Seratus persen yeoja. 100% penghancur jenis yeoja lebih tepatnya. Aku adalah teman satu kelas Min Ho di kampus. Choi Min Ho. Cowok populer yang selalu dipuja-puja yeoja lain. Aku hanya melihat bahwa Choi Min Ho memang lebih tampan daripada yang lain. Tapi aku tidak melihat kelebihan lainnya. Teman-teman memanggilku Youngie, karena nama Youngie lebih terkesan feminine daripada memanggil nama lengkapku. Aku hanyalah – dan harus menjadi – seorang yeoja biasa. Aku tidak terlalu menonjol di sekolah, namun aku masih beruntung karena teman-teman juga tidak menganggapku invisible alias tidak terlihat.
Kalian tahu pelindung? Mereka adalah 100% banding terbalik dengan bangsaku, penghancur. Bisa dibilang kami ini… musuh? Sebenarnya, penghancur hanyalah kata-kata untuk menamai bangsa kami yang terkenal sombong dan tak mau dianggap sama dengan iblis. Pada dasarnya, tugas kami sejalan dengan para iblis. kenapa aku bisa mengatakan bahwa bangsaku sendiri sombong? karena kami suka menjadi sombong. kesombongan adalah kekuatan kami. aku baru tahu bahwa sombong dalam dunia manusia itu tidak begitu disukai. Kami hanya bekerja di bumi setelah kami menjadi penghancur senior. Kadang kami berebut mangsa dengan iblis untuk menghancurkan harapan-harapan mangsa kami. Namun kami tidak akan peduli dengan kematian mereka, itu tugas seorang iblis untuk mengurus kehidupan mangsa kami yang mati karena keterpurukan, putus asa, kesedihan maupun depresi. Kalau aku pribadi, aku tidak masalah untuk berteman dengan iblis, pelindung, bahkan malaikat. Penghancur senior setidaknya bisa bertransformasi 2/3 dari bentuk asli kami menjadi manusia. Nama, wajah, kebiasaan dan sifat kami masih sama. Jadi jangan heran bahwa kami, para penghancur, terlihat cukup arogan, sombong, atau menyeramkan. Kudengar bangsa pelindung kekurangan yeoja, kami malah kekurangan namja. Banyak yang melahirkan yeoja-yeoja baru. Aku rasa memang sudah tradisi bahwa siapapun yang menikah setidaknya hanya punya 1 atau bahkan tidak punya anak jenis namja. Entahlah. Aku sendiri punya banyak saudara yeoja. Aku adalah anak ke-6 dari 8 bersaudara yang semuanya adalah yeoja. Untung mereka tidak tinggal bersamaku sekarang.
Onew. Teman Min Ho. Aku cukup kenal baik dengannya. Dia kakak angkatanku sih, namun dia tampak seperti kami ini seumuran. Onew orang yang baik. Aku merasa orang yang lebih pantas untuk diidolakan adalah Onew, tapi sepertinya dia bahkan tidak banyak dikenal para yeoja yang menjadi fans Min Ho itu. aku sempat bertanya pada Onew kenapa dia tidak setenar Min Ho padahal dia dan Min Ho seperti lem dan kertas yang tidak terpisah. Aku tidak pernah berfikir untuk mengganggu Min Ho. Aku tidak bisa membaca hidupnya, hanya itu saja kendalaku. Aku belum memastikan dia ini manusia utuh atau pelindung.
“aku tidak begitu perlu diperebutkan. lagipula semua orang pasti sebenarnya tau kalau aku lebih dari Min Ho. Haha.” Selalu seperti itu jawaban yang kudapat darinya. Aku memanggil namanya, Onew, tanpa embel-embel ‘oppa’ di belakangnya. Bukan karena aku tidak menaruh sopan santun pada seniorku, tapi itu semua karena Onew tidak mau terlihat tua jika kutambahkan ‘oppa’ di belakang namanya. Itu murni permintaannya. Lagipula itu menguntungkan, aku kan penghancur, kami abadi. Jadi pasti umurku lebih tua beribu tahun darinya. Buat apa aku memanggilnya dengan embel-embel ‘oppa’?
aku tahu banyak tentang Min Ho. Bukan karena aku fans-nya, tapi karena kebetulan rumahnya hanya terpisah 3 pintu dari rumahku. Jadi, mau tak mau aku tahu tentangnya. Setiap lewat rumahnya, aura yang kurasakan cukup aneh. Aku merasa di dalam selalu penuh orang. Padahal Min Ho bilang dia hanya tinggal bertiga dengan Onew yang menumpang di rumahnya dan adik perempuan semata wayangnya. Mungkin ini karena aku adalah penghancur, jadi aku bisa merasakan aura-aura lain selain aura manusia. Tapi aku selalu saja mendapat jawaban yang sama dari Onew, lagi-lagi hanya dari Onew.
“tidak ada. Kami memang hidup bertiga. Mungkin saat kau mendengar dan merasa bahwa banyak orang di dalam, karena kami kedatangan tamu. Atau mungkin Key sedang ada di rumah saat itu.”
Key, tetangga yang memisah rumahku dan Min Ho itu memang sangat akrab dengan adik Min Ho. Aku sih menyimpulkan jika Key menyukai adik Min Ho. Aku pernah melihatnya membeli beberapa barang di bungkus rapi. Seperti sebuah kado atau hadiah untuk orang spesial. Aku tidak mengenal Key secara personal karena dia bukan temanku, bukan sejenis denganku. Bukan pula mahasiswa di kampus kami. Jadi aku hanya tahu bahwa dia adalah sahabat Min Ho dan Onew yang bertempat tinggal di antara rumahku dan Min Ho.
[Kim Jong Hyun POV]
“tahu tentang yeoja yang akhir-akhir ini kuceritakan? Yang rumahnya ada di sebelah kiri kita?” tanyaku pada Key saat makan malam berdua kali ini. Makan malam, berdua. Ini semua gara-gara Hyo Jin sedang tidak ingin di ganggu. Bahkan Tae Min sampai memutuskan untuk mengungsi di sini mungkin untuk beberapa hari. Min Ho dan Jin Ki hyung panik. Itu jelas, karena Hyo Jin tidak pernah mengamuk seperti tadi sore. Yeoja yang seperti seorang malaikat yang selalu manis itu bisa-bisanya membentak kami bahkan menyuruh Tae Min keluar dari rumahnya. Tapi Tae Min sedang tidak ada di sini sekarang, kurasa dia pasti mengecek keadaan Hyo Jin.
“aku tahu. Teman sekampus Min Ho itu kan? Yang kau bilang sepertinya bisa mengetahui keadaan kalian.” Key menjawab persis seperti definisiku tentang seseorang yang sedang kami bicarakan sekarang.
“iya, kau benar.”
“lalu kenapa dengan dia? Kau suka dia? Bisa suka manusia juga ya kalian?”
“kau mulai mencercaku dengan pertanyaan. Bisa satu-satu?” aku mulai sebal bila rasa penasaran manusiaku ini timbul. Dia bisa jadi namja paling cerewet yang aku kenal sepanjang hidupku.
“oh! Mianhae. Habis aku penasaran. Jadi, ada apa dengannya?”
“aku baru tahu bahwa dia dekat dengan Jin Ki hyung.”
“MWO? Bagaimana dia, seorang manusia, bisa dekat dengan Jin Ki hyung? Aku saja tidak kuat bila ada di dekatnya.”
“itu yang menjadi pikiranku selama beberapa hari ini. Dia itu memang MANUSIA atau jangan-jangan PELINDUNG?”
“pelindung? Katamu pelindung berjenis yeoja tidak bisa lama-lama di bumi kecuali dia punya manusia yang berjenis yeoja juga?”
“kataku!? Kapan aku mengatakan hal konyol seperti itu!” ralatku. Seenaknya saja dia mengubah hukum kami. “jangan-jangan Tae Balita yang bilang macam-macam.” Ucapku menggeram
“seenakmu saja. Aku tidak pernah mau mengumbar hukum kita kepada manusia yang bukan jadi tanggung jawabku.” Mendadak Tae Min sudah ada di dekat jendela, bagaimana bisa dia diam di sana dan malah makan keju. KEJU! Hei! Dia ini pelindung atau anak kecil yang harus dilindungi sih!? Kelakuannya tidak bertambah dewasa meski sudah 2 tahun melindungi Hyo Jin.
“hei balita! Kau ini bisa dewasa sedikit tidak sih!? Pantas saja Hyo Jin bertindak seperti itu padamu,” aku memancing amarahnya, hanya ingin lihat reaksinya sih.
“berhenti mengatakan hal itu, hyung!” Tae Min mencengkeran kerahku. Pancinganku kena. Bingo! Ternyata kalau sedang emosi, dia bisa marah juga.
“calm down, Tae Min. Jjong hanya menyulut amarahmu. Seperti tidak tahu dia saja. Lagipula kau ini memotong pembicaraan. Lanjutkan, Jjong.” Lerai Key. Tumben dia bisa serius seperti ini.
Aku berjalan mengitari meja makan dan bersandar di dinding. Aku tidak tahu harus mengatakannya atau tidak kepada Key. Namun aku dan Key sudah sepakat tidak ada yang akan disembunyikan dari pikiran dan hati masing-masing.
“Jjong? Masih mau dilanjutkan?” sekarang nadanya malah melembut. Aku khawatir dengan perubahan tiba-tiba Key. Aku sendiri bahkan tidak bisa mengatasinya. Apalagi orang lain.
“oh, ya… kurasa aku harus hati-hati. Dia bisa saja pernah melihatku dan Tae Min jika dia benar-benar bisa merasa atau bahkan pelindung jenis yeoja.” Ucapku asal.
“oh. Jadi kalian harus hati-hati. Lalu Onew hyung?”
“biarkan sajalah. Dia kan bisa jadi manusia juga.” Ucapku lalu segera pergi. “istirahatlah Key. Aku pergi dulu.”
[Choi Min Ho POV]
“Hyo Jin-ah. Buka pintunya.” Masih terdengar isak Hyo Jin di dalam kamar. Bahkan seorang Jin Ki memilih diam kali ini. Ada apa sebenarnya dengan Hyo Jin?
Jong Hyun bilang dia masih biasa saja sore tadi. Tae Min tidak mau bicara sepatah katapun padaku. Ada apa sebenarnya? Kenapa mendadak Hyo Jin seperti kerasukan? Kali ini aku benar-benar berharap keempat sahabatku itu ada di sini dan membantu Hyo Jin keluar dari kamarnya. Tolong, siapapun. Aku tidak mau Hyo Jin kenapa-kenapa.
Label:
Choi Minho,
Fan Fiction,
Hyojin,
Kang Youngwook,
Kim Jonghyun,
Kim Kibum,
Lee Jinki,
Lee Taemin,
SHINee
MINE [part 1]
Cast:
- SHINee members
- Kim Hyojin
Note: I just own the plot
“dia pasti datang. Dia sudah berjanji padaku untuk datang.”
“sudahlah! Selama apapun kau menunggu, dia takkan kembali padamu.”
“Kibum pasti pulang. Dia sudah janji akan cerita segala yang dia alami padaku.”
“itu hanya janji anak-anak, Hyojin..”
“hentikan, Taemin! Aku tahu dia pasti datang!”
“Hyojin! Aku yang selama ini ada untukmu, bukan Kibum! Lupakan dia”
Benar-benar kekanakan mungkin, namun aku tak dapat memungkiri bahwa aku benar-benar menangis hanya karena Kibum mengambil es krimku. Es krim yang kubeli dari hasil kerjaku selama seminggu ini.
Kim Kibum. Dia temanku sejak kecil. Dia berbeda denganku, Kibum itu anak orang kaya. Tidak sepertiku, aku harus kerja sambilan untuk menambah uang sakuku. Memang susah hidup sebagai orang serba kekurangan. Aku bisa apa lagi? Aku sudah tidak punya siapa-siapa. Oh ya, namaku Hyojin. Lebih tepatnya adalah Kim Hyojin. Aku anak tunggal, dan kali ini benar-benar tunggal. Tanpa ada appa dan eomma.
Aku kehilangan appa dan eomma 5 tahun yang lalu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka meninggal karena kecelakaan. Saat itu harusnya aku akan mempunyai adik, namun takdir berkata lain. Aku sendirian. Ya, ya. Aku memang sendiri. Namun aku tidak seperti anak-anak lain seusiaku yang setelah di tinggal lalu tinggal di panti asuhan dan bergantung pada orang lain. Appa selalu bilang padaku bahwa hidup hanya sekali. Aku harus mencari banyak sekali pengalaman dalam hidup ini. Makanya aku tidak mau masuk dalam panti asuhan. Di sana aku pasti seperti hewan peliharaan yang hanya menerima dan bekerja untuk mendapatkan hakku yaitu makan. Aku paling benci orang seperti itu. Selama otak dan ototku masih dapat kugunakan, aku akan mencari jalan hidupku sendiri.
Dan di sinilah aku akhirnya. Seoul. Kota metropolitan. Cukup jauh dari daerah asalku, Jeonju. Tau kenapa aku sampai di sini? Inilah kisahku.
Aku berumur 8 tahun saat itu. Aku masih berada di Jeonju. Aku masuk di Jeonju [Elite] Elementary School dan kenal dengan 2 orang cowok yang unik dengan karakter mereka masing-masing, 2 orang pelindung, dan 1 orang manusia-setengah-pelindung.
Lee Jinki. Dia kakak kelasku sekaligus tetanggaku semenjak aku pindah dari Jeju ke Jeonju. Dari orangtuanya jugalah aku masuk di sekolah ini. Aku suka memanggilnya Jiko. Entah kenapa, rasanya nama Jinki terlalu bagus untuknya. Jiko terpaut 2 tahun dariku. Meski begitu aku tidak memanggilnya oppa. Dia tidak mau, katanya terlihat tua. Padahal memang tua. Dia sebenarnya bukan manusia utuh, namun entah bagaimana dia bisa menjadi manusia dan tau segala tentang pelindung. Dia berkata bahwa dia tidak butuh pelindung, malah melindungi Chomi.
Kim Jonghyun dan Kim Kibum. Mereka tak terpisahkan. Kemana-mana Jonghyun mengawal Kibum. Kibum yang paling kaya di antara aku, dia, Chomi dan Jiko. Jonghyun adalah pelindung Kibum. Kibum kemana, dia selalu ada. Kalau aku tidak kenal Kibum, aku pasti tidak kenal Jonghyun. Jonghyun atau yang lebih sering kupanggil Jin karena keusilannya itu lebih tua dariku dan Kibum. Namun seperti memanggil Jiko, aku memanggil Jin tanpa embel-embel oppa di belakangnya. Kalau untuk Kibum, cowok sok bersih ini, aku tetap memanggil dengan namanya. Dia bisa mengamuk kalau aku memanggilnya dengan sebutan lain. Aku bisa melihat Jin. Aku bahkan berbicara dan bercanda dengannya seperti Kibum kepada Jin. Kibum selalu baik padaku, dia memang menyenangkan dan selalu care pada semua orang.
Yang ketiga, Choi Minho. Dia seumuran denganku. Kalem dan lebih sering tersenyum daripada berbicara, tadinya. Setelah kami dekat, dia lebih cerewet dari yang aku kira. Aku sempat berfikir dia ini boneka atau patung ketika awal bertemu. Di antara kelima sahabatku ini, kuakui dia yang paling tampan. Aku selalu cerita apapun kepadanya. Dia buku diary berjalanku. Aku memanggilnya Chomi. Entah, sepertinya memang kebiasaanku memanggil nama orang lain seenakku. Dia ini juga manusia.
Lee Taemin. Dia pelindungku, aku sendiri tidak tau apa maksudnya pelindung itu, namun aku percaya padanya. Dia selalu ada di mana-mana. Kenapa aku bilang ‘di mana-mana'? karena kadang dia menghilang, lalu mendadak sudah ada di hadapanku. Kadang aku usil dengan memanggilnya eonni. Taemin mengaku lebih muda dariku, namun sikapnya kadang terlalu dewasa dibanding umurnya. Setiap aku tanya berapa umurnya, dia hanya bilang berkali lipat dari umurku. Dia terus menyangkal umurnya lebih tua dariku.
Ketiga sahabatku yang kudapat semenjak masuk di Jeonju EES itu orang yang setia kawan. Dan beruntungnya, dengan campur tangan Kibum, kami ber-4 selalu bersama. Aku memang seorang perempuan, dan mereka semua laki-laki. Tapi aku tak ambil pusing, selama aku tidak tersakiti. Mereka bisa dibilang adalah soulmate-ku. Di tambah dengan 2 pelindung, yang kurasa sangat-amat berguna.
Aku selalu bersama mereka. Bermain, berkelahi, olahraga, aku bersama mereka. Hanya mereka yang aku punya, ya. Aku bukan orang yang gampang bergaul dengan orang lain di sekitarku. Aku terlalu ‘transparan’ bagi orang lain. Aku sering tidak di anggap. Itu tidak masalah bagiku sih.
“Jiko. Eomma akan segera melahirkan. Melahirkan itu apa ya?” tanyaku pada Jiko di taman sepulang sekolah
“itu artinya, adikmu akan segera berada di dunia ini.” Ucap Jiko
“adikku memang ada di dunia ini kan? Eomma bilang dia ada di perut eomma.”
“dasar anak kecil. Adikmu belum sampai di dunia.” Ucapnya menekankan kata belum.
“memang dia di mana sekarang?”
“ya masih di perut eommamu. Kalau eommamu bilang beliau sudah melahirkan, baru adikmu ada di dunia.” Ucap Jiko
“aku masih tidak mengerti.” Ucapku
“tentu kau tidak mengerti, anak kecil!” ucap Taemin mendadak ada di atas tiang ayunan.
“Taemin? Bagaimana bisa kau ada di sana?”
“aku bisa ada di mana saja.”
“Taemin! Dia masih terlalu kecil untuk tau tentangmu yang selalu menampakkan diri seenak dirimu. Turunlah. Bersikaplah seperti manusia.”
“jadi selama ini dia menganggapku manusia? Bisa-bisanya …”
“memang kau pikir dia percaya kalau ada seorang pelindung baginya?”
“Jiko, Taemin. Kalian membicarakan apa sih?”
“bukan apa-apa.”
“Hyojin, ayo pulang.” Ucap Kibum yang berada di samping mobilnya, meneriakiku.
“Jiko, ayo.” Ucapku menggandeng Jiko. Yang kutau saat itu, Taemin sudah ada di mobil Kibum.
Kami ber-6 ada di mobil Kibum. Kami saling bertukar cerita, tentu saja aku ada di antara Jiko dan Taemin. Chomi duduk di dekat Jin. Saat itu aku berpikir bahwa Jin juga seorang manusia, karena Chomi juga bisa melihat Jin. Kami berbicara layaknya manusia dengan manusia. Seperti biasa, Kibum mengantar Chomi, Jiko dan aku pulang. Rumah kami hanya berbeda kompleks, kecuali rumah Jiko yang berada tepat di sebelah kiri rumahku.
Aku adalah seorang anak perempuan biasa yang selalu bermain dengan ceria. aku bahkan tak pernah berpikir bahwa aku akan kehilangan kedua orangtuaku. Sampai saat itu, aku sedang ada di rumah Kibum, sendiri. Mendadak Jiko, Jin, dan Taemin datang disusul Chomi. Mereka saling berbisik. Sampai akhirnya,
Label:
Choi Minho,
Fan Fiction,
Hyojin,
Kim Jonghyun,
Kim Kibum,
Lee Jinki,
Lee Taemin,
SHINee
Subscribe to:
Posts (Atom)