“Hyo, ikut aku.” Ucap Jiko menggamit lenganku dan kami semua menuju ke balkon.
Mereka tidak berkata apapun, namun segera Chomi, Jiko dan Kibum segera membentuk lingkaran dan segera Taemin dan Jin berada di antara mereka, mengelilingiku.
Aku tak ingat lagi, yang kutau, aku melihat kejadian yang sangat mengerikan. Kecelakaan yang menimpa orangtuaku. Aku shock dan terjatuh. Aku bagai ada di sana. Menyaksikan dengan kedua mataku sendiri. Kedua orangtuaku tergeletak tak berdaya. Eomma dan adikku yang akan lahir terpental dari mobil, aku melihat kejadiannya. Appa terjepit di dalam mobil. Aku tak dapat menuliskannya, terlalu mengerikan.
Aku bangun dan kurasakan tubuhku penuh keringat dingin serta air mata. Kibum memelukku dengan erat. Aku melihat Taemin memalingkan muka dariku, yang aku tahu mereka semua menangis bersamaku. Jin ada di samping Kibum, menarik Kibum dariku.
Aku tak ingat lagi, Jiko cerita bahwa aku pingsan hampir seharian. Kejadian itu membuatku menutup diri dari mereka. Aku merasa aku tak bisa berteman bersama mereka lagi. Aku marah pada mereka yang membiarkanku tau kejadian sebenarnya. Saat itu aku marah dan meninggalkan mereka. Aku merasa bersalah dan selalu menghindar dari mereka.
Tahun terakhirku di Jeonju EES, kulewati dengan menjauh dari mereka. Taemin juga tidak pernah muncul, namun aku sadar bahwa Taemin selalu mengawasiku. Aku masuk ke Jeonju Middle School For Girls. Aku berusaha melupakan mereka. Saat itu yang kutahu Kibum pindah ke Seoul, tentu bersama Jin. Tahun kedua aku sekolah di Jeonju MSFG, aku dapat kabar bahwa Chomi dan Jiko juga pindah ke Seoul.
Setelah lulus SMP, aku merasa amat kesepian. Aku merindukan sahabat-sahabatku dan memutuskan untuk ikut pindah ke Seoul dengan menjual rumah dan menempati sebuah apartment sederhana. Saat itu aku mulai menerima kembali kehadiran Taemin. Taemin selalu bersamaku. Aku mulai membuka diri kepadanya. Aku mulai mengingat yang lain dan secara diam-diam mencari tahu tentang mereka. Jiko dan Chomi berada di Cheongdam High School. Kibum ada di Seoul International High School.
Aku bekerja sambilan di sebuah restoran untuk menghidupiku. Aku mulai kembali bertemu dengan Jiko, Kibum dan Chomi. Mereka pindah ke apartment yang sama denganku. Aku sering kecolongan, Kibum kadang membayariku sekolah, atau uang sewa apartment. Ada saja yang ia lakukan tanpa izinku. Namun aku tak dapat menolaknya, aku merasa kembali hidup ketika bersama mereka.
**
“Hyojin.” panggil Jiko yang mendadak ada di balkon jendelaku
“Jiko! Berapa kali ku peringatkan?!!” aku seperti tersengat listrik, dan segera menimpuknya dengan bantal kepik kesayanganku.
“mianhae. Temani aku.” Ucap Jiko segera masuk dan duduk di meja belajarku
“kemana?”
“kemana saja.” Ucapnya sambil membenahi rambut berantakannya, yang tidak pernah rapi
“pasti kau ada masalah dengan appamu lagi. Baiklah.” Jawabku menyambar jaket abu-abu yang tergeletak di kasurku. Belum sampai di pintu,
“Hyoji~~n! yohooo~” ucap Kibum masuk ke kamarku tanpa izin. Bersama Jin tentunya
“mian, Hyo. Aku sudah peringatkan dia,” ucap Jin merasa bersalah
“apalagi ini!!??” aku memutar bola mataku yang segera tertumbuk ke arah meja komputerku. Benar saja, di situ sudah ada Taemin, malah dia hanya tersenyum.
“Hyojin, aku kemba… kalian ngapain di sini?” tanya Chomi.
Lengkap sudah! Kelima perusak – maksudku pelindungku – ada di sini.
“Jinki hyung, ngapain kau ada di sini?” tanya Kibum
“aku mau mengajaknya jalan-jalan.” Jawab Jiko segera merangkul pundakku. Taemin segera menepis tangan Jiko dan menatapnya tajam
“berani menyentuhnya sekali lagi, kulenyapkan kau!” ucap Taemin
“akhir-akhir ini kau jadi sensitif, Taem.” Ucap Jin
“aku paling tidak suka ada orang yang berusaha menyentuh sesuatu yang kulindungi.” Serunya lalu menghilang, dan tiba-tiba ada di kasurku. Dia bilang aku ini ‘sesuatu’? dasar bocah sial!
Seperti biasa, berakhir di meja makan. Kibum memasak untuk kami, aku bercerita apa saja pada Chomi, bermain dengan Jin dan Tae eonni, dan Jiko sibuk dengan makalahnya. Dia baru masuk kuliah sih.
**
“Hyojin sebentar lagi akan menjadi seorang lady.” Ucap Jonghyun
“Hyojin itu perempuan, namun dia selalu bersama kita. Kita ini terlalu jahat ya.” Celetuk Kibum
“daripada menyerahkan Hyojin pada orang yang tidak dikenal, aku lebih suka melihatnya berada di antara kita. Meski aku agak tidak suka dengan sikap Jinki yang akhir-akhir ini menempel terus pada Hyojin-ku.” Ucap Taemin mendadak ada di sebelah Kibum
“Hyojin-MU?” tanya Jinki agak tidak terima
“ya! Aku sudah bilang berkali-kali jangan datang tiba-tiba!” ucap Kibum melempar sendok es krimnya ke arah Taemin. Segera Taemin menghilang dan berdiri menyandarkan diri di tembok.
“aish, jinjja! Kau ini, berlakulah seperti manusia sedikit!” protes Kibum sebal
“kadang aku berpikir, akankah di antara kita terlibat cinta dengan Hyojin?” tanya Minho, masih dengan nada datar.
“ya! Kau tiba-tiba mengatakan sesuatu yang ganjil ditelingaku!” ucap Jinki menimpuk Minho dengan bantal.
“aku kan hanya bertanya.” Jawab Minho melempar kembali bantalnya ke Jinki
‘her whisper is the lucifer…’ [Hyooo calling…]
No comments:
Post a Comment