akhirnya dengan keadaan yang tidak cukup aman, mereka semua makan dengan tidak lahap. setelah selesai makan malam,
"aku pulang," ujar pangeran sulung tanpa perasaan bersalah
yang lain tentu saja memelototinya dengan tatapan marah dan sebal. putri sulung paham suasana seperti ini, dan ia memutuskan masuk ke dalam kamarnya daripada harus berurusan dengan interogasi yang menurutnya tidak penting. sedangkan pangeran sulung sendiri hanya keheranan menatap wajah para keluarganya yang menatap sebal.
sesuai dugaan, setelah putri sulung menghilang dari balik tirai
"dari mana saja kau!?" tanya Raja tegas
"ah, ayahanda ini. tentu saja main."
"kamu tahu sekarang jam berapa?"
"sudah lewat dari jam makan malam. tak perlu khawatir ayahanda, aku makan bareng teman2ku."
"kau tahu apa artinya makan malam dengan keluarga?"
"ayahanda, sudahlah. ini sudah malam, biarkan putra kita istirahat,"
"ratu! kenapa kau selalu membelanya!? dia harus di beri pelajaran karena tidak adanya tanggung jawab pada dirinya! apa kau tau, akan jadi apa kerajaan kita nantinya jika mempunyai raja seperti dia!?" menunjuk dengan telunjuk dan suara membentak ratu. raja sangat emosi karena pangeran sulung bahkan sama sekali meremehkannya
"ayahanda! ibunda nggak salah! kenapa ayah jadi marah sama bunda?! bunda lebih baik menjauh saja. kau juga putri bungsu, bawa bunda dan pangeran bungsu ke ruangan lain." ucapan pangeran sulung seakan menjadi rem waktu sejenak.
seorang pangeran yang sama sekali tidak peduli bahwa dirinya akan di hukum dan kena marah atas sikapnya hari ini, yang mempunyai sikap sangat bertolak belakang dengan pangeran idaman pada umumnya, ternyata sangat menghargai ibunda-nya, sang ratu, yang telah memberinya kasih sayang dari ia kecil hingga sekarang. ia tak peduli akan diapakan dirinya setelah membantah dan membentak sang ayah, yang pangeran pikirkan adalah hati dari sang bunda yang terluka hanya karena membelanya. putri bungsu juga sama kaget dengan yang lain. ia tak pernah menyangka, kakak yang dia benci keberadaannya karena selalu mengganggu dan menindasnya bisa berkata sebegitu bijak, bahkan lengkap dengan solusi agar tak terjadi perang antara raja-ratu.
putri bungsu berjanji dalam hati dia akan mengingat saat ini seumur hidupnya, dan ia akan laporkan hal mengejutkan ini pada putri sulung.
rem waktu telah lepas dan waktu kembali berjalan.
raja merasa bersalah telah membentak sang istri hanya karena kesalahan dari putra bungsunya, ia segera berbalik dan menuju ke kamarnya, tanpa sepatah katapun meneruskan emosinya kepada pangeran sulung.
putri bungsu dengan segera lari menuju ke kamar sang kakak.
"kakak! kakak!"
"ada apa lagi ini?"
"kakak mau tau sesuatu?!" tanya putri bungsu masih dengan muka riang
"sepertinya nggak mau. masalah kakakmu satu itu?"
"ah! kakak belum lihat tadi! keburu masuk sih. kakak membela bunda!"
"benarkah!? ceritakan padaku." ujar putri sulung kaget dan dengan segera duduk di kasurnya
"tadi, ayahanda marah besar karena kakak meremehkan ayah, dengan entengnya kakak bilang sudah makan malam dengan teman-temannya. akhirnya, emosi ayah memuncak saat bunda membela kakak. jadi bunda yang kena marahnya. dan dengan segera, kakak ikut marah sama ayah dan langsung memberi solusi agar aku, adik, dan bunda pergi dari TKP daripada kami kena getahnya. aku mengintip. rupanya ayah segera diam dan menuju ke kamar. sedangkan kakak berbalik menuju ke luar. entah kemana dia."
"kau SERIUS mengatakan ini?!"
"aku AMAT SANGAT SERIUS kak! aku mendengarnya sendiri!!"
"aku heran. ada yang nggak beres dengan otaknya. apa jangan-jangan dia, ah! pasti bukan. atau jangan-jangan karena pengaruh... ah! pasti bukan" putri sulung mondar-mandir di kamarnya.
"ahhh~ mulai deh. sudahlah! aku ke kamar. bye!! oh ya, minta jepit rambut 2!!" ujar putri bungsu langsung menyambar jepit rambut berwarna merah di dekat meja rias dan lari.
(to be continued)
No comments:
Post a Comment