Tuesday, September 7, 2010

Kim Ki Bum

staring:
Choi Si Won (Super Junior)
Choi Hyejin
Kim Ki Bum (Super Junior)
Kim Ki Bum (SHINee)
Jessica Jung (SNSD)

"maafkan aku, tapi ini semua penting untukku. aku harap kamu bisa ngertiin aku," kata-kata itu terus terngiang di dalam benakku. Kim Kibum, kau meninggalkanku. Kau pergi hanya demi dia dan hal itu. hal yang paling ku benci.
"tapi Kibum..."
"maaf, aku akan serius di sana." dan dia meninggalkanku. kisah yang menyedihkan untuk di ingat.

[flash back]
Umurku 7 tahun saat itu. aku sama seperti bocah-bocah lain. bermain. namun sore itu adalah awal segalanya, tak bisa kulupakan.
"appa dan eomma pulang. Hyejin~ di mana kau?" tanya appa-ku, Choi Siwon. appa kebanggaanku. appa pulang bersama eomma.
sore itu tumben sekali keduanya pulang bersama, bersama 2 orang bocah lelaki. sepertinya sebaya denganku.
"Choi Hyejin, anakku yang manis. kemari. eomma mau kenalkan kau dengan kakak barumu." ucap eomma dengan senyum menyejukkan
"annyeong! aku Kim Kibum!" ucap yang pendek dengan rambut kecoklatan, dia sok kenal denganku!
"annyeong. namaku juga Kim Kibum, namun aku lebih tua 2 tahun dari kalian. bangawoyo~" ucap yang tinggi dengan tampang cool dan acuh.
"cih! kau ini siapa! seenaknya tidak sopan padaku! aku ini tuan rumah, tau!" semprotku pada si pendek.
"mulai saat ini kalian akan jadi saudara, jadi kalian harus akur ya? Hyejin, jangan keras kepala begitu, mereka baik kok." ucap eomma sambil tersenyum. senyum eomma itu selalu menghipnotisku, segera kemarahanku hilang.

untuk membedakan mereka, aku memanggil si tinggi dengan Bummie oppa dan si rambut coklat sesuai namanya, Kibum. Bummie oppa terlihat tidak bersahabat, setelah perkenalan dia segera minta ke kamarnya. dasar orang tidak sopan! aku tidak suka punya kakak sepertinya!

"Hyejin, eh.. benar kan? Hyejinnie? ayo kita main di luar! aku ingin jalan-jalan." ucap Kibum menarikku. herannya, aku malah mengikutinya. padahal aku baru dalam posisi tidak setuju punya saudara seperti mereka. Kibum itu orang yang ramah dan semangat, begitu pikirku.

***

kami bersama selama hampir 6 tahun. Kibum selalu ada di sisiku. Bummie opa memutuskan untuk melanjutkan kuliah di US bersama dengan eomma yang bekerja di sana. sedangkan appa yang seorang artis selalu sibuk, jadi hanya ada aku dan Kibum yang mengurus rumah. waktu selama itu, jelas aku tau SEMUA tentang Kibum.

Di umurku yang ke-10 kemarin, aku dan Kibum memutuskan untuk masuk ke agency yang sama dimana appa berada. kami ingin seperti appa, tidak hanya melihat dari TV. Aku dan Kibum selalu 1 kelas, entah ada kontroversi dan campur tangan siapa di balik ini, tapi aku tidak keberatan. aku senang. teman-teman tidak tahu dan tidak perlu tahu bahwa kami bersaudara. toh sama saja kan bagi mereka? teman-teman menggodaku dan Kibum sebagai pasangan kekasih. aku tidak peduli. well, Kibum itu populer sejak SD. Kibum juga pintar masak, pintar mendandaniku. dia juga pintar dalam bidang akademik dan non-akademik. apa yang kurang dari seorang Kim Kibum? aku selalu iri padanya, tapi tenang saja! aku MAJIKANNYA. kenapa aku bilang aku majikannya? habis Kibum selalu mengikutiku. selalu ada di sisiku. banyak yang iri pada wajah dan kecerdasannya, dan sering mengganggu Kibum. aku selalu ada untuk membelanya, aku melindunginya. aku tidak mau Kibum disakiti, karena nanti tidak ada yang bisa disuruh-suruh, begitu pikirku.

Kupikir sikap kami akan terus sama seperti ini. Namun itu tidak terjadi. Autumn tahun ini, aku dan Kibum bermain sepeda melepas kepenatan setelah training yang menguras tenaga hari ini. kami memutuskan untuk balapan sampai ke rumah.
"rambut coklat! cepat kesini, kejar aku!" seruku terus mengayuh sepeda dengan kencang
"Hyejinnie!! awas!!! lihat ke depan!! Hye..."
BRAAAKKK!!! aku hanya ingat sampai di situ.

ketika bangun,aku sudah ada di kamar rumah sakit. banyak perban di tubuhku. aku melihat Kibum menangis terduduk di kursi. Dia ini kenapa, pikirku.
"pendek~ kau ini kenapa sih? cengeng." ucapku mencoba bercanda dan mengelus kepalanya. wajahnya terbenam di kasur, aku menebak bahwa matanya pasti bengkak sebesar bola ping-pong. tapi mendadak tangisannya semakin menjadi. aku kaget, aku kan hanya bercanda. eomma, appa dan Bummie oppa juga terlihat sedih. anehnya, mereka lengkap di sini!

"eomma, ada apa sih sama Kibum?" tanyaku penasaran. aku masih polos saat itu. eomma mulai menitikkan air mata. "eomma juga ikut menangis. ada apa sih? kenapa semua berkumpul?" tanyaku semakin bingung. aku agak khawatir.
"appa, bawa eomma keluar dulu, biar aku dan Kibum yang jelaskan pada Hyejin." ucap Bummie oppa pelan, namun aku mendengar dengan jelas karena ruangan ini sepi.
"Hye, berhentilah dari agency. aku janji aku yang akan gantikan kau," ucap Bummie oppa.
"oppa ya! aku kan mau sepert appa! aku dan Kibum! kami akan menjadi bintang!" jawabku tersinggung. isak Kibum kembali terdengar
"kamu tidak akan bisa," ucap Bummie oppa semakin lirih. matanya terlihat sayu
"Hyejinnie~ mianhae, mianhae~ aku telat memperingatkanmu. huhuhu~ mianhae Hyejinnie, jangan benci padaku~" Kibum mulai meracau
"kau sudah tidak punya kaki. Hyejin-ah, kecelakaan itu, kakimu..." aku tidak ingat kelanjutannya. kata-kata Bummie oppa terngiang dan memenuhi otakku.
aku mencoba posisi duduk dan meraba ke arah kakiku, aku tidak percaya! katakan ini bohong~ namun, aku tidak merasa tanganku memegang sesuatu. kosong. hilang. aku tidak punya kaki. Bummie oppa benar. aku tidak punya kaki. kecelakaan? sepeda? kakiku? training? dancing? impianku?
[flash back end]

***

Kibum masih merasa bersalah meski aku sudah berkali-kali bilang ini bukan salahnya. ya, aku kuat! sudah 5 tahun aku duduk di kursi roda. Kibum masih bersamaku. Dia tumbuh dengan baik. sangat menawan dan semakin populer.
KIBUM MILIKKU. itu kata-kata yang mutlak bagiku dan mungkin untuk Kibum.

"iya Hyejinnie, aku milikmu." ujarnya menanggapiku.

aku tahu dia tidak mempunyai perasaan apapun padaku. Kibum hanya menganggapku sebagai saudaranya. beda denganku. Dia bukan saudaraku. Aku tak mau dan tak pernah mau jadi saudaranya. entah sejak kapan aku suka pada Kibum. Bummie oppa satu-satunya yang tahu tentang perasaanku pada Kibum. hubunganku dan Bummie oppa membaik. dia menepati janjinya. Bummie oppa dan Kibum akan segera bersinar, dan mereka pasti akan melupakanku. itu pasti. aku tidak mau.

"Kibum, kau suka aku?" tanyaku suatu sore saat kami bermain di sebuah lapangan luas, hanya berdua.
"tentu! kau kan Hyejin-ku! mana mungkin aku tak suka pada Hyejin-ku?" jawabnya ditambah dengan senyum nakal yang semakin membuatnya mempesona.

bukan Kibum. bukan itu. Mungkin kau takkan pernah tau apa maksudku. ya, akhir-akhir ini Kibum sibuk dengan sekolah dan trainingnya. lebih sibuk dari biasanya. belakangan aku baru tau bahwa dia dekat dengan seorang gadis. Jessica namanya. keturunan Amrik-Korea. sama dengan Kibum rupanya. gadis itu yang merebut Kibum dariku. merebut waktuku dan Kibum.

"Jin-ah, melamun?" tanya Kibum mengagetkanku.
"ah! aniya." jawabku singkat dan cepat.
"Jin-ah, kita... kita pernah berjanji akan terus bersama kan? tapi... tapi.." ucapan Kibum terpotong
aku penasaran. apa yang akan dia katakan? apakah ini awal mimpi burukku?
"teruskan.." ucapku dengan nada datar sembari mengatur hatiku
"tapi.. kalau itu tidak bisa terwujud?" tanya Kibum.
hatiku terasa amat sakit, mungkin ini saatnya Kibum lepas dariku. aku hanya diam.
"ah~ aku bercanda!! aku kan hanya penasaran, kenapa wajahmu jadi sedih, my Jinny?" ucapnya
"Kibum-ah. kau capek?"
"lumayan. kenapa?"
bukan itu Kibum. ah! seharusnya aku masih melanjutkan kata-kataku, tapi aku tak bisa mengatakannya.
"ah, tidak."

waktu terus bergulir. Kibum sudah terkenal dan bersinar. yang aku tahu, gadis bernama Jessica itu juga sama terkenalnya dengan Kibum. Kibum sempat bercerita bahwa dia tertarik dengan Jessica. itu awal aku membenci kehidupan sebagai artis. aku menjadi benci dengan pekerjaan Kibum sebagai idola. Kibum yang sekarang bukan Kim Kibum yang aku kenal. bahkan sekarang dia tidak memakai namanya.

KEY

itu nama barunya. nama yang dia pakai untuk bersinar, untuk ada di atas panggung, untuk Jessica.

KUNCI.

namanya cocok. dia kunci yang membuka gerbang hatiku. namun dia adalah 'KEY' bukan 'KIBUM'. AKU TIDAK KENAL DENGANNYA! dia BUKAN Kibum.

"Maaf Jinny~ sekarang aku hanya bisa telpon kau." Kibum menelponku di suatu malam ketika aku sedang kalut
"jangan panggil aku Jinny! panggil aku Hyejin! kau BUKAN Kibum-ku! kau langgar janjimu! kau pergi dengan Jessica itu! aku benci Jessica dan kehidupanmu yang sekarang! kau pergi! mana Kibum-ku? kembalikan.. kembalikan Kibum-ku~" ucapku menangis. aku meraung, aku merasa sangat sakit. aku tidak bisa berkata-kata selain menumpahkan semua perasaanku.

aku kaget ketika Kibum kembali ke rumah. katanya dia ambil cuti dengan alasan neneknya yang meninggal. aku senang ada Kibum. aku senang dia bersamaku kembali. namun, 2 hari yang lalu aku dengar Jessica menelponnya. mereka bertengkar di telpon. bahkan sang manager pun sampai datang untuk memintanya segera kembali. setelah kuhitung, Kibum sudah 2 minggu bersamaku. mungkin inilah akhir dari semuanya. benar-benar akhir dari semuanya.

"maafkan aku, tapi ini semua penting untukku. aku harap kamu bisa ngertiin aku." ucapnya saat kutanya siapa yang akan dia pilih.
"tapi, Kibum.."
"maaf, aku akan serius di sana." lalu dia segera masuk mobil bersama sang manager.

KIBUM PERGI. YA, DIA PERGI. DIA MENINGGALKANKU DEMI JESSICA DAN KARIRNYA! DIA MELUPAKANKU!

sekarang hanya ada aku di rumah. appa terlalu jauh untuk digapai. eomma tidak ada di Korea. Bummie oppa, entah di mana dia sekarang. kini Kibum pun sudah pergi. aku ingin mati. aku ingin mengakhiri semuanya. aku keluar rumah. aku akan menabrakkan diri.

"Kibum, kau bebas sekarang." aku mengirim pesan padanya dan segera mematikan ponselku.

Selamat tinggal Kim Kibum. Selamat tinggal appa, eomma, Bummie oppa. Kibum tak ada. dan aku tak mau hidup sendiri tanpa Kibum. mungkin aku bodoh, namun cinta sudah membutakanku. aku menjadi korban cinta seorang Kibum, ah.. Key. orang yang tidak pernah tau perasaanku padanya.

END.